BeritaInternasional

Manufaktur Spanyol Kembali Tertekan, Harga Energi Kerek Biaya Produksi

Avatar photo
6
×

Manufaktur Spanyol Kembali Tertekan, Harga Energi Kerek Biaya Produksi

Sebarkan artikel ini
Manufaktur Spanyol Kembali Tertekan, Harga Energi Kerek Biaya Produksi


PRESSCORNER.ID – MADRID. Kinerja sektor manufaktur Spanyol memburuk pada Agustus 2026. Survei terbaru S&P Global yang dipublikasikan Selasa (1/9/2026) menunjukkan, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Spanyol kembali kontraksi ke 49,5 pada Agustus dari 50,2 pada Juli.

Angka tersebut merupakan level terendah sejak Maret dan menunjukkan kondisi operasional manufaktur Spanyol memburuk untuk kedua kalinya dalam tiga bulan terakhir.

Pelemahan terjadi karena produksi dan pesanan baru sama-sama menurun. Setelah memperhitungkan faktor musiman terkait penghentian operasi pabrik selama musim panas, penurunan produksi menjadi yang terbesar sejak akhir 2023.

Produsen mengaitkan penurunan output terutama dengan melemahnya pekerjaan baru di tengah kondisi pasar dan permintaan yang stagnan. Penjualan domestik maupun internasional sama-sama turun.

Paul Smith, Direktur Ekonomi S&P Global Market Intelligence, mengatakan, Agustus menjadi bulan yang cukup berat bagi sektor manufaktur Spanyol. “Output dan pesanan baru menurun dibandingkan bulan sebelumnya di tengah permintaan pasar yang stagnan,” kata Smith, dalam rilis resmi, Selasa (1/9/2026).

Menurut dia, kelemahan terutama terlihat pada produsen barang modal. “Perusahaan terus kesulitan memastikan investasi dan komitmen terhadap kontrak baru akibat ketidakpastian yang ada di pasar,” imbuh Smith.

Aktivitas pembelian juga tercatat turun untuk bulan kesembilan berturut-turut. Bahkan, laju kontraksi pembelian merupakan yang tercepat sejak April 2025, sejalan dengan melemahnya produksi dan pesanan baru.

Perusahaan juga semakin mengandalkan persediaan yang telah dimiliki. Persediaan bahan baku turun untuk bulan ke-11 berturut-turut, sementara stok barang jadi mencatat penurunan paling tajam sejak April.

Namun, penggunaan stok tidak sepenuhnya mengatasi persoalan pasokan. Waktu pengiriman bahan baku kembali memburuk secara signifikan. Perusahaan masih melaporkan dampak konflik di Timur Tengah terhadap jalur pelayaran serta kesulitan pemasok memperoleh persediaan.

Tekanan terbesar pada sektor manufaktur Spanyol datang dari sisi biaya. Kelangkaan pasokan, kenaikan harga energi dan meningkatnya biaya transportasi mendorong inflasi harga input melonjak pada Agustus.

Harga input meningkat jauh lebih cepat dibandingkan Juli. Lajunya bahkan berada di atas tingkat sebelum pecahnya perang di Timur Tengah, meskipun masih lebih rendah dibandingkan tingkat inflasi pada April hingga Juni.

Kenaikan biaya tersebut kemudian mendorong produsen menaikkan harga jual. Namun, laju kenaikan harga output masih jauh lebih rendah dibandingkan kenaikan harga input, menunjukkan perusahaan belum sepenuhnya meneruskan tekanan biaya kepada pelanggan.

Smith mengatakan ketidakpastian pasar dan gejolak harga terus menjadi persoalan bagi produsen Spanyol. “Ketidakpastian ini dapat dikaitkan dengan gejolak penetapan harga yang terus dialami perusahaan sepanjang 2026. Dengan biaya energi kembali meningkat pada Agustus, inflasi harga input kembali melonjak, memberikan tekanan nyata terhadap margin,” katanya.

Memburuknya kondisi bisnis juga tercermin pada pasar tenaga kerja. Jumlah pekerja manufaktur kembali turun pada Agustus, memperpanjang tren penurunan tenaga kerja menjadi satu tahun.

Prospek sektor manufaktur Spanyol dalam 12 bulan ke depan juga semakin suram. Kenaikan harga energi dan kekhawatiran mengenai tren permintaan saat ini membuat kepercayaan perusahaan terhadap prospek produksi melemah dibandingkan Juli.

Kondisi tersebut mencerminkan kombinasi persoalan yang dihadapi manufaktur Spanyol, yakni permintaan yang stagnan, produksi yang turun, biaya energi yang meningkat, gangguan rantai pasok serta ketidakpastian yang membuat perusahaan menahan investasi.