PRESSCORNER.ID – TOKYO. Produsen otomotif Jepang Nissan Motor dan Honda Motor memperkuat kerja sama di bidang teknologi kendaraan. Keduanya sepakat mengembangkan bersama electronic control unit (ECU) standar untuk kendaraan berbasis perangkat lunak atau software-defined vehicles (SDV).
Melansir Reuters (31/8), kesepakatan ini menjadi langkah terbaru Nissan dan Honda untuk mempercepat pengembangan teknologi kendaraan generasi berikutnya. Dalam pernyataan bersama pada Senin (31/8), kedua perusahaan mengatakan akan memasukkan ECU dan perangkat lunak hasil pengembangan bersama ke dalam arsitektur kendaraan generasi baru mulai tahun fiskal 2029.
ECU merupakan komponen penting dalam kendaraan modern karena berfungsi mengendalikan berbagai sistem elektronik di dalam mobil. Dengan semakin banyaknya fitur digital, kendaraan kini membutuhkan sistem elektronik dan perangkat lunak yang semakin kompleks.
Kerja sama ini juga menunjukkan semakin pentingnya perangkat lunak dalam industri otomotif global. Produsen mobil kini tidak hanya bersaing dalam hal desain, mesin, atau efisiensi bahan bakar, tetapi juga dalam teknologi seperti bantuan pengemudi, konektivitas, hiburan, hingga pembaruan perangkat lunak secara over-the-air.
Investasi besar pada teknologi tersebut membuat biaya pengembangan kendaraan ikut meningkat. Karena itu, berbagi teknologi dan mengembangkan sistem secara bersama menjadi salah satu cara bagi produsen mobil untuk menekan biaya sekaligus mempercepat inovasi.
Hadapi tekanan produsen China
Langkah Nissan dan Honda juga tidak terlepas dari meningkatnya persaingan dengan produsen mobil China. Salah satu pemain yang semakin kuat adalah BYD, yang telah memperluas kehadirannya di berbagai pasar, termasuk Eropa dan Asia Tenggara.
Produsen mobil China semakin agresif menawarkan kendaraan listrik dan hibrida yang dilengkapi berbagai fitur perangkat lunak canggih. Kondisi tersebut memberikan tekanan kepada produsen Jepang yang selama ini dikenal kuat dalam teknologi dan manufaktur otomotif.
Dengan mengembangkan platform teknologi secara bersama, Nissan dan Honda berharap dapat meningkatkan daya saing kendaraan mereka di tengah perubahan industri otomotif menuju kendaraan yang semakin terkoneksi dan bergantung pada perangkat lunak.
Kerja sama pengembangan ECU ini merupakan kelanjutan dari pembicaraan Nissan dan Honda yang dimulai pada 2024. Saat itu, kedua perusahaan sepakat melakukan penelitian bersama mengenai platform perangkat lunak generasi berikutnya.
Kesepakatan terbaru tersebut juga datang lebih dari setahun setelah Nissan dan Honda menghentikan pembicaraan mengenai rencana merger. Jika terealisasi, merger tersebut berpotensi menciptakan produsen mobil terbesar keempat di dunia.
Meski rencana merger batal, kedua perusahaan tetap melanjutkan sejumlah bentuk kerja sama di bidang teknologi.
Dalam kerja sama terbaru, Nissan dan Honda menargetkan penyusunan spesifikasi bersama untuk ECU inti yang digunakan dalam arsitektur kelistrikan dan elektronik kendaraan. Keduanya juga akan mengembangkan sistem operasi, sebagian middleware, serta perangkat lunak untuk mengendalikan kendaraan.
Sementara itu, Mitsubishi Motors, yang merupakan mitra aliansi Nissan, mengatakan sedang mempertimbangkan untuk ikut bergabung dalam kerja sama tersebut. Mitsubishi masih melakukan pembicaraan dengan Nissan dan Honda untuk menentukan bidang kerja sama yang berpotensi dikembangkan bersama.
Jika Mitsubishi akhirnya bergabung, kerja sama ketiga produsen Jepang ini berpotensi memperluas skala pengembangan teknologi mereka. Hal ini menjadi semakin penting ketika industri otomotif global bergerak menuju kendaraan listrik, kendaraan terkoneksi, dan kendaraan yang semakin mengandalkan perangkat lunak.











