PRESSCORNER.ID – TOKYO. Data Kementerian Keuangan Jepang menunjukkan belanja perusahaan Jepang untuk pabrik dan peralatan naik 1,6% secara tahunan pada periode April-Juni 2026. Kenaikan tersebut menandakan permintaan domestik menopang perekonomian Jepang.
Hasil tersebut, yang akan digunakan untuk menghitung angka produk domestik bruto (PDB) yang direvisi yang akan dirilis pada 8 September, kemungkinan akan mendukung argumen Bank of Japan (BOJ) atau bank sentral Jepang untuk menaikkan suku bunga kebijakannya pada keputusan dewan berikutnya yang digelar pada 18 September 2026 mendatang.
Data awal bulan lalu menunjukkan, ekonomi Jepang tumbuh sebesar 1,1% per tahun pda kuartal II-2026. Realisasi pertumbuhan ekonomi itu melambat dari pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2026 yang capai 1,9%, karena pengeluaran rumah tangga dan bisnis yang lebih lemah.
Angka pengeluaran modal dibandingkan dengan hasil yang hampir stagnan pada kuartal sebelumnya. Pengeluaran tumbuh 1,5% secara musiman per kuartal.
Data tersebut juga menunjukkan penjualan perusahaan naik 5,9% pada kuartal tersebut dibandingkan tahun sebelumnya, dan laba berulang meningkat 24,6%.
Belanja modal merupakan indikator utama pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh permintaan domestik.
Perusahaan-perusahaan umumnya optimistis terhadap pengeluaran dalam beberapa tahun terakhir, didukung oleh keinginan untuk berinvestasi dalam teknologi informasi guna mengimbangi kekurangan tenaga kerja yang terus-menerus terjadi di tengah populasi yang menua dengan cepat.
Pemerintah telah berjanji untuk menggunakan belanja fiskal untuk mendorong investasi swasta, dengan alasan bahwa belanja modal yang lebih kuat sangat penting untuk meningkatkan potensi pertumbuhan dan meningkatkan produktivitas.
Janji tersebut berfokus pada sektor-sektor yang dianggap penting oleh pemerintah untuk pertumbuhan jangka panjang, termasuk kecerdasan buatan, semikonduktor, manufaktur canggih, dan infrastruktur energi.











