PRESSCORNER.ID – Dolar Amerika Serikat (AS) menguat tipis terhadap sejumlah mata uang utama pada perdagangan Rabu (26/8/2026).
Namun, pergerakannya masih terbatas karena investor menunggu data inflasi AS yang dapat menentukan arah pasar menjelang simposium Jackson Hole.
Perhatian pasar terutama tertuju pada data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS untuk Juli yang akan dirilis pada Rabu waktu setempat. Data tersebut merupakan indikator inflasi yang menjadi acuan utama Federal Reserve (The Fed).
Dolar Australia menjadi mata uang dengan pergerakan paling menonjol. Mata uang tersebut sempat menguat ke level US$ 0,71865, posisi tertinggi dalam tiga bulan, setelah data menunjukkan inflasi inti Australia meningkat lebih cepat dari perkiraan.
Indikator trimmed mean CPI, yang menjadi ukuran inflasi pilihan Reserve Bank of Australia (RBA), naik 3,6% secara tahunan.
Dolar Australia terakhir tercatat menguat 0,24%, sedikit di bawah level tertingginya tersebut.
“Karena inflasi inti belum menunjukkan tanda-tanda melambat, masih ada risiko RBA kembali menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang,” kata analis Capital Economics dalam catatan riset.
Pasar Tunggu Data PCE AS
Selain terhadap franc Swiss, pergerakan dolar AS terhadap mata uang utama lainnya relatif terbatas. Dolar AS naik 0,1% terhadap yen Jepang menjadi 158,95 yen, sementara pound sterling melemah 0,2% menjadi US$ 1,3624.
Euro juga turun tipis ke US$ 1,1664, meskipun sebelumnya muncul laporan bahwa para pembuat kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB) bersiap menaikkan suku bunga pada pertemuan September.
Namun, para pejabat ECB disebut belum memiliki keinginan kuat untuk memberikan sinyal pengetatan kebijakan lebih lanjut.
Investor kini menantikan data PCE AS untuk Juli. Berdasarkan jajak pendapat Reuters, ekonom memperkirakan core PCE, yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi, naik 3,3% secara tahunan pada Juli, sama seperti bulan sebelumnya dan masih jauh di atas target inflasi The Fed sebesar 2%.
Jika perkiraan tersebut terbukti, perhatian pasar akan beralih kepada pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole pada Jumat (28/8).
Pasar akan mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed, termasuk kemungkinan pengetatan lebih lanjut untuk mengembalikan inflasi menuju target.
Sejumlah analis menilai kenaikan imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor panjang belakangan ini menunjukkan bahwa The Fed mungkin perlu mempertahankan kebijakan suku bunga yang lebih ketat.
Prospek Kebijakan The Fed Jadi Perhatian
Simposium Jackson Hole menjadi salah satu agenda penting bagi pelaku pasar karena menjadi forum bagi pejabat bank sentral untuk menyampaikan pandangan mengenai kebijakan moneter.
“Biasanya, ini merupakan acara yang sangat dinantikan karena The Fed akan menyampaikan strategi kebijakan moneter ke depan atau bahkan memberi sinyal perubahan besar dalam rezim kebijakan,” kata Benoit Anne, senior managing director MFS Investment Management.
“Namun, mungkin tidak kali ini. Ekspektasi pasar memang cukup rendah,” lanjutnya.
Menurut Anne, Warsh sebelumnya telah mengumumkan sejumlah satuan tugas untuk mengubah cara kerja bank sentral sehingga kecil kemungkinan ia akan mendahului hasil dari proses tersebut.
Sementara itu, dolar AS juga menguat 0,2% terhadap dolar Kanada menjadi C$ 1,387. Penguatan tersebut memperpanjang kenaikan dolar AS terhadap mata uang Kanada selama tiga hari berturut-turut.
Dolar Kanada tertekan setelah Kanada pada Selasa mengumumkan tarif balasan terhadap sekitar US$ 20 miliar impor tahunan dari AS serta memberikan dukungan kepada dunia usaha dan pekerja setelah perundingan perdagangan dengan Washington gagal pada pekan lalu.











