PRESSCORNER.ID – Inflasi Amerika Serikat (AS) tetap tinggi pada Juli 2026, menunjukkan tekanan harga masih sulit mereda dan berpotensi memperumit perdebatan Federal Reserve (The Fed) mengenai arah suku bunga.
Berdasarkan data Bureau of Economic Analysis (BEA) Departemen Perdagangan AS yang dirilis Rabu (26/8/2026), Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index naik 3,7% secara tahunan pada Juli.
Angka tersebut sama dengan pertumbuhan pada Juni dan lebih tinggi dari perkiraan ekonom dalam jajak pendapat Reuters sebesar 3,6%.
Dengan demikian, inflasi PCE masih berada di atas target The Fed sebesar 2% selama 65 bulan berturut-turut.
Secara bulanan, indeks PCE meningkat 0,2% pada Juli, berbalik dari penurunan 0,1% pada Juni. Penurunan pada Juni sebelumnya merupakan kontraksi bulanan terlemah sejak April 2020.
Inflasi PCE sebelumnya melonjak hingga 4,1% pada Mei, level tertinggi dalam tiga tahun, setelah perang AS-Israel melawan Iran pada akhir Februari mendorong harga energi dan mengganggu sekitar seperlima pasokan minyak global.
Enam bulan setelah konflik tersebut dimulai, situasi belum sepenuhnya terselesaikan. Namun, intensitas serangan telah menurun dan harga minyak serta tekanan inflasi yang ditimbulkannya telah turun dari level tertinggi pada pertengahan musim semi.
Perdebatan Suku Bunga The Fed
Penurunan inflasi dalam dua bulan terakhir menjadi salah satu alasan mayoritas anggota Federal Open Market Committee (FOMC) memilih mempertahankan suku bunga pada pertemuan Juli.
The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75%, level yang telah bertahan sejak Desember.
Namun, perlambatan inflasi yang masih berjalan lambat berpotensi memperkuat pandangan sebagian pejabat The Fed yang menginginkan kebijakan moneter lebih ketat.
Inflasi PCE telah berada di atas target 2% sejak Februari 2021. Kondisi tersebut membuat sebagian pejabat The Fed menilai diperlukan pengetatan lebih lanjut agar inflasi dapat kembali menuju target.
Inflasi PCE sendiri pernah mencapai puncak 7,2% pada Juni 2022. Kenaikan suku bunga agresif The Fed, yang merupakan pengetatan paling tajam sejak 1980-an, kemudian membantu membawa inflasi turun mendekati target.
Namun, proses tersebut kembali menghadapi tekanan setelah Presiden Donald Trump memberlakukan berbagai tarif impor sejak kembali ke Gedung Putih tahun lalu.
Kebijakan tersebut mendorong kenaikan harga berbagai barang dan kemudian diperburuk oleh lonjakan harga energi akibat perang Iran.
Tekanan inflasi juga berpotensi kembali meningkat setelah perundingan perdagangan AS dengan Kanada, mitra dagang terbesar kedua AS, gagal pada Jumat lalu.
Kegagalan tersebut mendorong pemberlakuan tarif baru terhadap impor barang Kanada senilai US$ 20 miliar.
Washington dan Ottawa juga telah mengumumkan langkah tarif balasan tambahan yang akan berlaku dalam beberapa bulan mendatang jika kesepakatan perdagangan tidak tercapai.
Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II Tak Berubah
Dalam laporan terpisah, BEA juga mempertahankan estimasi pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal II 2026.
Produk domestik bruto (PDB) AS tumbuh pada tingkat tahunan 1,5% pada kuartal II. Angka tersebut tidak berubah dari estimasi sebelumnya.
Data tersebut menunjukkan perekonomian AS masih tumbuh, meski lajunya relatif moderat di tengah tekanan inflasi dan ketidakpastian perdagangan.
Perkembangan inflasi dan pertumbuhan ekonomi tersebut akan menjadi pertimbangan penting bagi The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga berikutnya.











