Penulis: Prihastomo Wahyu Widodo
PRESSCORNER.ID – Aktivitas kapal di Selat Hormuz mulai menurun di tengah berlanjutnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran, namun tidak membuat harga minyak dunia melonjak pada awal perdagangan Senin, 17 Agustus 2026.
Reuters melaporkan, harga minyak Brent tercatat naik tipis 0,2% atau 20 sen menjadi US$88,72 (Rp1,58 juta) per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun 5 sen menjadi US$82,35 (Rp1,46 juta) per barel.
Pergerakan harga tersebut terjadi setelah harga kedua jenis minyak tersebut naik lebih dari 5% sepanjang pekan sebelumnya akibat serangkaian serangan terhadap kapal tanker dan fasilitas energi di kawasan Timur Tengah.
Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Menurun
Selat Hormuz menjadi perhatian utama pasar karena jalur ini merupakan salah satu rute penting bagi pengiriman energi global.
Data pelacakan kapal dari Kpler menunjukkan hanya lima kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada Sabtu (15/8). Tidak ada kapal yang tercatat melintas pada Minggu.
Jumlah tersebut turun tajam dibandingkan akhir pekan sebelumnya, ketika 31 kapal tercatat melewati selat tersebut.
Penurunan aktivitas pelayaran terjadi setelah sejumlah kapal tanker dilaporkan mengalami serangan di kawasan Selat Hormuz.
Uni Emirat Arab menuduh Iran menyerang kapal ketiga yang dioperasikan Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) ketika sedang melintasi Selat Hormuz pada Jumat.
Sebelumnya, UEA juga menuduh Iran terlibat dalam dua insiden lain yang melibatkan kapal ADNOC pada Kamis malam.
Negosiasi AS-Iran Belum Menemui Titik Terang
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap keamanan Selat Hormuz, belum ada kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan Iran belum memutuskan untuk kembali melakukan pembicaraan dengan AS.
Presiden AS Donald Trump, sementara itu, meminta masyarakat Amerika bersiap menghadapi kemungkinan kenaikan harga bensin selama konflik masih berlangsung.
Situasi tersebut membuat pasar minyak berada dalam posisi sulit. Investor harus memperhitungkan kemungkinan gangguan pasokan jika konflik semakin meluas.
Analis IG Tony Sycamore mengatakan pasar masih mempertimbangkan risiko pasokan yang lebih ketat, tetapi di sisi lain tetap melihat adanya sejumlah alternatif yang dapat membantu mengurangi dampak gangguan pengiriman.
Pergerakan harga minyak juga masih dipengaruhi oleh perkembangan negosiasi AS-Iran. Jika konflik berlanjut dan lalu lintas kapal di Selat Hormuz terus menurun, kekhawatiran terhadap pasokan minyak global berpotensi meningkat.











