PRESSCORNER.ID – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berencana meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran.
Langkah tersebut dapat dilakukan melalui perluasan sanksi, termasuk menyasar perusahaan China yang membeli minyak Iran hingga lembaga keuangan yang membantu transaksi Tehran.
Trump pada Jumat (14/8/2026) berjanji akan memberikan tekanan ekonomi yang lebih keras terhadap Iran.
Sehari sebelumnya, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Washington akan menerapkan langkah-langkah terhadap Tehran yang “belum pernah terlihat” mulai pekan depan.
AS, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan Uni Eropa telah menerapkan berbagai sanksi, embargo perdagangan, serta pembekuan aset terhadap Iran sejak akhir 1970-an.
Kebijakan tersebut diberlakukan terkait program nuklir Iran, pelanggaran hak asasi manusia, serta dukungan terhadap kelompok militan.
Sejak perang Iran dimulai pada Februari, Washington juga telah memperluas sanksi terhadap sektor maritim, energi dan keuangan Iran, sekaligus memberlakukan blokade laut.
Data Office of Foreign Assets Control (OFAC) Departemen Keuangan AS menunjukkan lebih dari 1.000 individu, kapal dan pesawat telah dikenai sanksi sejak Trump memulai masa jabatan keduanya.
Langkah terbaru antara lain menyasar armada minyak bayangan Iran, perusahaan asuransi pelayaran, entitas dan individu yang membantu Iran memperoleh senjata, serta bursa aset digital. AS juga membekukan sekitar US$500 miliar aset kripto yang terkait dengan Iran.
Namun, para pakar menilai pemerintahan Trump masih memiliki sejumlah opsi lain untuk meningkatkan tekanan terhadap Tehran.
Sanksi Kilang Minyak China
Salah satu opsi adalah memberikan sanksi kepada kilang minyak independen China yang dikenal sebagai teapot refineries.
Kilang-kilang tersebut mencakup sekitar seperempat kapasitas penyulingan minyak China. Sebagian di antaranya beroperasi dengan margin keuntungan yang tipis dan terkadang negatif.
China menyerap lebih dari 80% minyak Iran yang dikirim melalui jalur laut berdasarkan data 2025 dari perusahaan analisis Kpler. Kilang independen China menjadi salah satu pembeli utama minyak tersebut.
Kondisi itu membuat kilang-kilang tersebut berpotensi terkena sanksi sekunder AS, yakni sanksi yang ditujukan kepada pihak-pihak yang membantu entitas yang telah dikenai sanksi utama.
Sanksi AS sebelumnya telah membuat sejumlah kilang independen China mengurangi pembelian minyak Iran.
Namun, para pakar sanksi menilai kilang tersebut relatif lebih kebal karena memiliki keterpaparan yang terbatas terhadap sistem keuangan AS.
Bank China Bisa Jadi Sasaran
Washington juga dapat memperluas sanksi terhadap bank-bank China.
OFAC sebelumnya telah menjatuhkan sanksi sekunder kepada sejumlah entitas kecil berbasis China dan Hong Kong yang dituduh memproses transaksi bernilai miliaran dolar terkait minyak Iran serta membantu pendanaan pengadaan senjata.
Departemen Keuangan AS juga telah memperingatkan dua bank besar China bahwa keduanya dapat menghadapi sanksi sekunder jika ditemukan dana Iran mengalir melalui sistem mereka.
Namun, Washington sejauh ini belum menetapkan kedua bank tersebut sebagai target sanksi.
Para pakar menilai pemberian sanksi terhadap bank-bank besar tersebut dapat memberikan efek jera kepada lembaga keuangan lain. Namun, langkah tersebut juga berisiko memicu tindakan balasan dari Beijing.
Pemerintahan Trump sendiri berupaya meredam ketegangan dengan China menjelang pertemuan yang diperkirakan berlangsung antara Trump dan Presiden China Xi Jinping pada akhir tahun ini.
Washington juga khawatir China dapat membatasi ekspor mineral kritis yang dibutuhkan untuk produksi teknologi canggih, sementara AS dan negara-negara Barat masih berupaya membangun pasokan alternatif.











