PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Industri plastik Indonesia masih menahan ekspansi investasi di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tekanan produk impor. Pelaku usaha memilih wait and see sembari melihat perkembangan pasar domestik dan ekspor.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiyono mengatakan, gejolak politik global menjadi salah satu faktor yang menahan pertumbuhan industri. Prospek pasar ekspor yang masih terbatas juga membuat investasi baru belum menjadi pilihan utama.
“Pasar dalam negeri ini harus betul-betul dilindungi, karena untuk ekspor kita agak sedikit kurang prospektif dengan kondisi sekarang ini,” ujar Fajar kepada KONTAN, Kamis (13/8/2026).
Fajar menyebut, investasi baru membutuhkan kapasitas produksi besar, yang harus ditopang pasar domestik dan ekspor. Namun, pasar ekspor belum cukup kuat sehingga industri memilih mengamankan pasar dalam negeri.
Di sisi lain, pasar domestik menghadapi tekanan dari produk impor, terutama dari China. Tingginya arus impor dinilai menggerus utilisasi pabrik plastik dalam negeri.
Karena itu, pemerintah perlu memperkuat perlindungan industri domestik melalui kebijakan non-tariff measures yang lebih fleksibel. Kebijakan tersebut diperlukan agar arus impor dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasar lokal.
Selain impor, industri plastik masih menghadapi tekanan nilai tukar rupiah dan suku bunga. Kondisi ini turut meningkatkan ketidakpastian bagi pelaku usaha dalam mengambil keputusan investasi.
Meski demikian, Fajar mengapresiasi keberlanjutan kebijakan harga gas bumi tertentu serta dukungan pemerintah terhadap tarif listrik industri.
Ia juga meminta pemerintah menjaga daya beli masyarakat melalui investasi infrastruktur dan kebijakan yang menyasar masyarakat berpenghasilan rendah.
Untuk dua tahun ke depan, Fajar menilai kepastian hukum menjadi faktor penting bagi dunia usaha. Pelaku industri membutuhkan kepastian bahwa kebijakan saat ini dapat berlanjut setelah 2029.
Selain itu, pemerintah perlu melanjutkan hilirisasi dan mengembangkan bahan baku domestik. Pemerintah pun diminta mempercepat penerapan kebijakan fiskal dan perpajakan agar dapat mengikuti dinamika pasar. Dengan kebijakan yang lebih cepat dan kepastian hukum yang kuat, Fajar berharap investasi industri plastik kembali meningkat.











