PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian mengungkapkan, keputusan Presiden Prabowo mengusulkan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) merupakan pilihan yang tepat untuk menjaga kesinambungan kebijakan moneter sekaligus mempersiapkan Bank Indonesia menghadapi perubahan ekonomi global yang berlangsung semakin cepat.
Menurut Fakhrul, Destry merupakan salah satu teknokrat moneter paling lengkap yang pernah dimiliki Indonesia.
Pengalamannya yang membentang dari dunia akademik, pasar keuangan, perbankan, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), hingga lebih dari tujuh tahun berada di jajaran Dewan Gubernur Bank Indonesia menjadikannya memiliki perspektif yang utuh mengenai bagaimana kebijakan moneter bekerja, bagaimana pasar merespons kebijakan, dan bagaimana stabilitas sistem keuangan harus dijaga.
“Menurut saya, Ibu Destry Damayanti adalah salah satu teknokrat moneter paling lengkap yang pernah dimiliki Indonesia. Beliau memahami teori ekonomi, dinamika pasar keuangan, stabilitas perbankan, hingga proses pengambilan kebijakan di Bank Indonesia. Kombinasi pengalaman seperti ini sangat penting ketika tantangan bank sentral semakin kompleks,” tutur Fakhrul dalam keterangannya, Senin (10/8/2026).
Fakhrul bilang, tantangan Gubernur BI berikutnya tidak lagi sama seperti ketika kerangka inflation targeting pertama kali dibangun lebih dari dua dekade lalu.
Menurutnya, bank sentral kini memasuki era baru ketika perubahan teknologi, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), digitalisasi, fragmentasi perdagangan global, perubahan rantai pasok, transisi energi, perubahan demografi hingga meningkatnya ketidakpastian geopolitik mulai mengubah cara perekonomian bekerja.
“Kita sedang memasuki periode ketika AI mengubah produktivitas, digitalisasi mengubah sistem pembayaran, deglobalisasi mengubah rantai pasok, dan geopolitik mengubah arah arus modal global,” jelasnya.
Menurut Fakhrul, perubahan tersebut membuat tantangan bank sentral semakin luas. Menurutnya, perubahan yang sedang terjadi bukan sekadar perubahan siklus ekonomi, tetapi perubahan struktur ekonomi dunia. Karena itu, bank sentral harus mampu membaca perubahan jangka panjang, bukan hanya mengelola fluktuasi jangka pendek.
Fakhrul berpendapat, Destry tidak tepat dilihat melalui dikotomi klasik antara hawkish maupun dovish sebagaimana sering digunakan dalam menilai bank sentral.
Menurutnya, selama beberapa tahun terakhir keputusan Dewan Gubernur BI lebih mencerminkan pendekatan yang pragmatis dan berorientasi pada stabilitas, yaitu mengambil langkah tegas ketika kredibilitas kebijakan dan stabilitas rupiah membutuhkan respons, namun tetap memperhatikan bagaimana kebijakan tersebut ditransmisikan kepada perekonomian domestik.
“Saya tidak melihat Ibu Destry sebagai seorang hawk ataupun dove. Saya melihat beliau sebagai seorang central banker yang adaptif dan berorientasi pada stabilitas dengan tetap menjaga momentum pertumbuhan. Ketika kondisi membutuhkan kebijakan yang tegas untuk menjaga kredibilitas dan stabilitas pasar, beliau mendukung langkah tersebut. Namun ketika stabilitas mulai terbentuk, fokus berikutnya tentu memastikan likuiditas dan transmisi kebijakan dapat kembali mendukung sektor riil untuk pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.
Menurut Fakhrul, pendekatan tersebut akan semakin penting ketika Bank Indonesia memasuki fase normalisasi setelah periode stabilisasi yang cukup panjang.
Disisi lain, ia bilang, pekerjaan terbesar Gubernur BI berikutnya bukan hanya mengambil keputusan yang tepat, tetapi juga membangun komunikasi yang mampu menjelaskan perubahan dunia kepada pasar dan masyarakat.
Dalam dunia yang semakin dipenuhi ketidakpastian, komunikasi bank sentral dinilai tidak lagi sekadar menjadi pelengkap kebijakan. Menurut Fakhrul, Bank Indonesia kini memiliki instrumen yang jauh lebih kaya dibandingkan masa lalu, sehingga komunikasi kebijakan juga harus berkembang.
“Ke depan komunikasi BI tidak cukup hanya menjelaskan BI-Rate. Yang perlu dipahami pasar adalah keseluruhan policy mix, mulai dari operasi moneter, pengelolaan likuiditas, kebijakan nilai tukar, instrumen makroprudensial hingga pendalaman pasar keuangan,” jelasnya.
Fakhrul menilai setelah fase stabilisasi berhasil menjaga kredibilitas kebijakan dan stabilitas nilai tukar, tantangan berikutnya adalah memastikan stabilitas tersebut diterjemahkan menjadi likuiditas yang lebih sehat serta transmisi kebijakan yang semakin efektif.
Ia mengatakan, bank sentral modern tidak hanya berperan dalam menjaga stabilitas, tetapi juga perlu memastikan stabilitas tersebut dapat diterjemahkan menjadi kondisi likuiditas yang lebih sehat, kurva imbal hasil yang semakin normal, pembiayaan sektor produktif yang lebih efektif, serta meningkatnya kepercayaan dunia usaha untuk kembali berinvestasi.
Menurutnya, fokus pasar ke depan tidak lagi semata mengenai perubahan suku bunga.
Fakhrul menilai komunikasi BI perlu bergeser dari yang terlalu berpusat pada price of money menuju komunikasi mengenai flow of money, termasuk bagaimana likuiditas bergerak, bagaimana kurva imbal hasil bekerja, serta bagaimana seluruh instrumen BI saling melengkapi.
Independensi Tetap Menjadi Jangkar Kredibilitas
Menurut Fakhrul, independensi Bank Indonesia (BI) tetap menjadi fondasi utama kredibilitas kebijakan moneter. Namun, independensi tersebut bukan berarti BI harus bekerja sendiri.
Menurutnya, semakin kompleks tantangan ekonomi global, semakin penting koordinasi antara kebijakan moneter, fiskal, sektor keuangan, dan sektor riil dengan tetap menjaga mandat serta independensi masing-masing institusi.
Ia mengatakan, independensi dan koordinasi bukan merupakan dua hal yang bertentangan. BI tetap harus independen dalam mengambil keputusan sesuai mandatnya, sementara koordinasi yang baik diperlukan agar setiap kebijakan dapat memberikan efektivitas yang lebih besar bagi perekonomian nasional.
Fakhrul berharap kepemimpinan baru BI dapat menjadi momentum untuk memperkuat kapasitas riset dalam menghadapi berbagai perubahan struktural yang tengah membentuk perekonomian dunia.
Menurut dia, riset bank sentral ke depan perlu semakin diarahkan pada berbagai isu strategis, seperti kecerdasan buatan, produktivitas, perubahan struktur industri, geopolitik, digitalisasi, ketahanan rantai pasok, perubahan demografi, serta transformasi sistem keuangan.
Ia melihat BI sudah mulai bergerak ke arah tersebut. Ke depan, ia berharap kapasitas riset strategis tersebut terus diperkuat sehingga bank sentral tidak hanya mampu menjelaskan kondisi yang sedang terjadi, tetapi juga membaca perubahan besar yang berpotensi membentuk perekonomian dunia dalam beberapa tahun mendatang.
Pada akhirnya, Fakhrul bilang, keberhasilan seorang Gubernur BI nantinya tidak hanya diukur dari kemampuan menjaga inflasi tetap rendah maupun stabilitas nilai tukar. Menurutnya, hal yang lebih penting adalah kemampuan BI untuk terus berevolusi mengikuti perubahan dunia tanpa kehilangan kredibilitas dan independensinya.
Ia juga berharap Destry Damayanti nantinya tidak hanya dikenang sebagai Gubernur BI yang menjaga stabilitas, tetapi juga sebagai pemimpin yang berhasil membawa BI memasuki fase baru sebagai bank sentral modern.
Fase tersebut ditandai dengan tetap terjaganya independensi, komunikasi yang semakin kuat, bauran kebijakan yang semakin kaya, riset yang semakin visioner, serta kemampuan menjelaskan perubahan global kepada pasar dan masyarakat.
“Ketika teknologi berubah, cara dunia berproduksi berubah, dan arus modal global ikut berubah, bank sentral juga harus terus berevolusi. Menurut saya, pengalaman dan rekam jejak Ibu Destry memberikan fondasi yang sangat kuat untuk memimpin proses evolusi tersebut,” tandasnya.











