BeritaInternasional

AS Optimistis Selat Hormuz Segera Dibuka, Pasokan Minyak Dunia Berpotensi Pulih

Avatar photo
7
×

AS Optimistis Selat Hormuz Segera Dibuka, Pasokan Minyak Dunia Berpotensi Pulih

Sebarkan artikel ini
AS Optimistis Selat Hormuz Segera Dibuka, Pasokan Minyak Dunia Berpotensi Pulih


​PRESSCORNER.ID – WASHINGTON. Amerika Serikat (AS) memperkirakan kesepakatan antara Iran dan Oman mengenai Selat Hormuz dapat segera tercapai.

Kesepakatan tersebut dinilai menjadi langkah penting untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis dan memulihkan ekspor minyak yang terganggu akibat perang antara AS dan Iran selama lima bulan terakhir.

Seorang pejabat AS yang tidak bersedia disebutkan namanya mengatakan pada Jumat (7/8/2026) bahwa terdapat kemajuan dalam pembicaraan antara Iran dan Oman. Kedua negara tersebut berada di sisi yang berseberangan dari Selat Hormuz.

“Telah ada kemajuan antara Oman dan Iran terkait selat tersebut, dan kami memperkirakan kesepakatan akan segera tercapai,” ujar pejabat AS tersebut kepada Reuters.

Menurutnya, setelah kesepakatan diumumkan dan pelayaran komersial dapat kembali berlangsung tanpa hambatan, AS akan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

“Setelah kesepakatan diumumkan untuk memulihkan pelayaran komersial tanpa hambatan, Amerika Serikat akan mencabut blokade pelabuhan-pelabuhan Iran,” katanya.

Ia menambahkan bahwa kebijakan AS akan tetap didasarkan pada pelaksanaan komitmen Iran.

Sebelum AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari, sekitar satu dari setiap lima barel minyak yang dikonsumsi dunia melewati Selat Hormuz.

Namun, konflik tersebut mengganggu lalu lintas kapal tanker di jalur strategis tersebut.

Iran disebut menggunakan situasi perang sebagai dasar untuk mengenakan pungutan terhadap kapal tanker minyak dan menembaki kapal yang mencoba melintasi selat tanpa izin.

Gangguan pengiriman minyak tersebut kemudian mendorong harga energi dan meningkatkan tekanan inflasi.

Kesepakatan Selat Hormuz Masih Berliku

Dalam beberapa pekan terakhir, pemerintahan Presiden AS Donald Trump berulang kali mengisyaratkan bahwa kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz sudah semakin dekat. Namun, Iran sebelumnya membantah bahwa perundingan sedang berlangsung.

Karena itu, belum jelas apakah rangkaian negosiasi terbaru akan menghasilkan kesepakatan yang lebih permanen.

Serangan Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz juga disertai peningkatan serangan oleh sekutunya yang berbasis di Yaman, kelompok Houthi.

Kelompok tersebut menargetkan kapal-kapal di jalur strategis lain di sisi berlawanan Semenanjung Arab, yakni antara Laut Merah dan Teluk Aden.

Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC), salah satu produsen energi terbesar dunia, mengatakan pada Jumat bahwa sebanyak 15 kapal miliknya telah diserang ketika melintasi Selat Hormuz sejak perang dimulai.

ADNOC menyebut serangan tersebut tidak beralasan. Satu anggota awak kapal tewas dan 20 lainnya mengalami luka-luka.

Saudi, Pakistan dan Turki Bentuk Pakta Pertahanan

Di tengah kekhawatiran konflik meluas dan serangan rudal Iran terhadap negara-negara eksportir minyak di kawasan Teluk, Arab Saudi, Pakistan dan Turki menandatangani perjanjian pertahanan bersama di Mekkah pada Jumat.

Pakta yang melibatkan tiga negara sekutu AS dengan mayoritas penduduk Muslim Sunni tersebut bertujuan memperkuat pencegahan kolektif terhadap agresi.

Dalam pernyataan bersama, ketiga negara menyatakan serangan bersenjata terhadap salah satu dari mereka akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota pakta.

Turki menegaskan perjanjian tersebut tidak ditujukan terhadap negara tertentu dan murni bersifat defensif.

Namun, kesepakatan itu muncul ketika ketegangan dengan Iran yang mayoritas penduduknya menganut Syiah sedang meningkat.

Sementara itu, AS juga berupaya menjadi mediator untuk mengakhiri pertempuran di front lain, yakni konflik antara Israel dan kelompok Hezbollah yang didukung Iran di Lebanon selatan.

Seorang pejabat Lebanon mengatakan pada Jumat bahwa Lebanon dan Israel telah menyepakati daftar pendek negara-negara yang dapat mengirimkan pasukan untuk memantau proses perlucutan senjata Hezbollah berdasarkan kesepakatan yang dimediasi AS.

AS nantinya akan memilih negara yang akan terlibat dari daftar tersebut.

Presiden Iran Pertahankan Diplomasi

Washington dan Teheran belum melakukan pembicaraan tingkat tinggi secara langsung sejak Wakil Presiden AS JD Vance bertemu dengan pejabat Iran di Swiss pada Juni.

Pertemuan tersebut berlangsung tidak lama setelah kedua pihak mencapai kesepakatan gencatan senjata. Nota kesepahaman pada 17 Juni menetapkan sejumlah ketentuan untuk memulihkan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz sekaligus membuka jalan bagi gencatan senjata.

Namun, kesepakatan tersebut tidak bertahan lama. Setelah menghadapi oposisi internal di AS dan Iran, permusuhan kembali pecah pada 7 Juli.

Meski demikian, militer AS melalui Central Command tidak melaporkan adanya serangan terhadap Iran sejak 29 Juli.

Sejumlah analis menilai perbedaan pandangan antara Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan pusat-pusat kekuasaan lainnya di Iran, terutama Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dapat mempersulit upaya perdamaian.

Dalam wawancara dengan televisi pemerintah yang disiarkan Jumat, Pezeshkian membela kebijakan pemerintahannya menghadapi kelompok garis keras yang menentang negosiasi dengan AS.

Ia mengatakan sebagian besar komandan militer senior Iran mendukung pembicaraan untuk mencapai kesepakatan yang dapat mengakhiri perang.

“Musuh terbesar Amerika adalah China, mengapa mereka tidak berperang? China melakukan urusannya sendiri dan semakin kuat dari hari ke hari. Ketika kita bisa mendapatkan hak-hak kita melalui dialog, mengapa tidak melakukannya?” ujar Pezeshkian.