PRESSCORNER.ID – Pertumbuhan ekonomi Filipina melambat pada kuartal II-2026 dan berada di bawah ekspektasi pasar, seiring perlambatan belanja pemerintah dan dampak krisis di Timur Tengah.
Mengutip Reuters, Jumat (7/8/2026), badan statistik Filipina melaporkan produk domestik bruto (PDB) negara itu tumbuh 2,3% secara tahunan (year on year/YoY) pada kuartal II-2026.
Realisasi tersebut lebih rendah dibandingkan proyeksi ekonom dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan pertumbuhan 2,8% YoY, atau setara dengan laju pertumbuhan pada kuartal I-2026.
Secara kuartalan yang telah disesuaikan secara musiman (quarter on quarter/qoq), ekonomi Filipina tumbuh 0,6% pada periode April–Juni 2026, melambat dari pertumbuhan 0,9% pada kuartal sebelumnya.
Di sisi lain, inflasi tahunan Filipina melambat untuk bulan ketiga berturut-turut pada Juli menjadi 6,2%, dari 6,4% pada Juni. Perlambatan inflasi didorong oleh kenaikan biaya transportasi yang lebih moderat.
Pada Juni lalu, pemerintah Filipina memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 menjadi 3,5%–4,5%.
Revisi tersebut dilakukan akibat dampak krisis di Timur Tengah serta skandal korupsi proyek infrastruktur yang menghambat belanja pemerintah.
Untuk jangka menengah, komite perencanaan anggaran Filipina menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 5%–6% per tahun pada periode 2027 hingga 2030.











