BeritaBisnis

INDEF: Pertumbuhan Ekonomi Lebih Banyak Dinikmati Kelompok Masyarakat Kelas Atas

Avatar photo
15
×

INDEF: Pertumbuhan Ekonomi Lebih Banyak Dinikmati Kelompok Masyarakat Kelas Atas

Sebarkan artikel ini
INDEF: Pertumbuhan Ekonomi Lebih Banyak Dinikmati Kelompok Masyarakat Kelas Atas


PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menyisakan persoalan ketimpangan. Meski ekonomi tumbuh 5,29% pada kuartal II 2026, manfaat pertumbuhan dinilai lebih banyak dinikmati kelompok masyarakat berpendapatan atas.

Diretur Big Data INDEF Eko Listiyanto mengatakan, hal tersebut tercermin dari meningkatnya rasio ketimpangan atau gini ratio pada Maret 2026.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Gini Ratio nasional naik dari 0,363 pada September 2025 menjadi 0,368 pada Maret 2026. Di wilayah perkotaan, gini ratio meningkat dari 0,383 menjadi 0,387, sedangkan di perdesaan naik tipis dari 0,295 menjadi 0,296.

“Kita lihat manfaat dari pertumbuhan ekonomi itu juga semakin mengarah ke masyarakat lapisan atas. Gini ratio secara rata-rata sedikit meningkat dari 0,363 menjadi 0,368,” ujar Eko dalam Diskusi Publik INDEF, Kamis (6/8).

Menurutnya, kenaikan ketimpangan di tengah pertumbuhan ekonomi menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah. Sebab, pertumbuhan yang lebih tinggi semestinya juga diikuti pemerataan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat.

Eko menilai, perbaikan kualitas pertumbuhan ekonomi perlu dimulai dari penguatan daya beli masyarakat secara organik, bukan hanya melalui stimulus jangka pendek.

Salah satu caranya ialah dengan menciptakan lebih banyak lapangan kerja formal. Menurutnya, pekerjaan formal umumnya menawarkan pendapatan yang lebih layak serta jaminan ketenagakerjaan yang lebih baik dibanding sektor informal.

“Penguatan daya beli yang organik dilakukan dengan menciptakan lapangan kerja formal. Saat ini porsi pekerja informal kita masih sangat dominan, hampir 60%,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah juga perlu mempercepat program reskilling dan upskilling, khususnya bagi pekerja di sektor perdagangan yang tengah menghadapi transformasi digital.

Ia menilai peningkatan keterampilan tenaga kerja menjadi penting agar pelaku usaha dan pekerja konvensional mampu beradaptasi dengan ekosistem perdagangan digital, sehingga pertumbuhan sektor perdagangan dapat diikuti peningkatan penyerapan tenaga kerja.

Di sisi lain, Eko juga menyoroti memburuknya kualitas kemiskinan di perdesaan. Menurutnya, pendekatan perlindungan sosial di desa perlu diubah agar tidak hanya berfokus pada bantuan tunai, tetapi juga mendorong peningkatan pendapatan masyarakat dalam jangka panjang.

“Harus ada intervensi yang berorientasi pada peningkatan pendapatan jangka panjang. Karena kita melihat problem di desa justru semakin rumit, ketika pertumbuhan ekonomi naik tetapi kedalaman dan keparahan kemiskinan juga memburuk,” pungkasnya.