PRESSCORNER.ID – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mendesak Bulgaria untuk meninjau kembali keputusannya mengizinkan pengerahan sementara pesawat militer Amerika Serikat (AS) di Pangkalan Udara Bezmer.
Iran menilai langkah tersebut sama saja dengan memfasilitasi operasi militer AS terhadap Teheran.
Mengutip Reuters, Kamis (30/7/2026), desakan itu disampaikan Araqchi dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Bulgaria Velislava Petrova-Chamova, sebagaimana diberitakan media pemerintah Iran.
Dalam pembicaraan tersebut, Araqchi mengatakan persetujuan Sofia atas permintaan AS untuk menempatkan pesawat militer di Pangkalan Udara Bezmer guna mendukung operasi militer merupakan tindakan yang tidak dapat diterima dan bertentangan dengan hubungan persahabatan yang selama ini terjalin antara Iran dan Bulgaria.
Iran sebelumnya telah berulang kali memperingatkan negara-negara yang mengizinkan wilayahnya digunakan untuk operasi militer AS terhadap Iran bahwa mereka dapat menghadapi konsekuensi.
Selain berbicara dengan Bulgaria, Araqchi juga melakukan pembicaraan melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri Siprus Constantinos Kombos.
Dalam kesempatan itu, ia menekankan pentingnya memastikan pangkalan-pangkalan militer asing di Siprus tidak digunakan untuk mendukung operasi militer terhadap Iran.
Pekan lalu, parlemen Bulgaria menyetujui penempatan sementara hingga delapan pesawat tanker KC-135 milik AS beserta sekitar 250 personel di Pangkalan Udara Bezmer, meski mendapat keberatan dari Iran.
Pemerintah Bulgaria menegaskan tidak akan ada senjata ofensif yang ditempatkan di pangkalan tersebut.
Sofia juga menegaskan keputusan itu tidak menjadikan Bulgaria sebagai pihak yang terlibat dalam operasi militer.
Sementara itu, Siprus menjadi lokasi dua pangkalan militer berdaulat milik Inggris, termasuk RAF Akrotiri, yang sempat diserang pesawat nirawak (drone) Iran pada awal Maret, beberapa hari setelah Israel dan AS melancarkan serangan terhadap Iran.
Pada awal konflik, Inggris menyetujui permintaan AS untuk menggunakan pangkalan militernya dalam melancarkan serangan defensif terhadap depot penyimpanan maupun peluncur rudal Iran.
Kebijakan tersebut tetap dipertahankan oleh Perdana Menteri Inggris Andy Burnham pada Juli, yang kemudian mendorong Korps Garda Revolusi Iran memperingatkan Inggris agar tidak memfasilitasi operasi militer AS terhadap Iran.











