BeritaInternasional

Bursa Saham Global Merosot ke Level Terendah Sebulan Selasa (28/7), Saham Chip Ambruk

Avatar photo
4
×

Bursa Saham Global Merosot ke Level Terendah Sebulan Selasa (28/7), Saham Chip Ambruk

Sebarkan artikel ini
Bursa Saham Global Merosot ke Level Terendah Sebulan Selasa (28/7), Saham Chip Ambruk


PRESSCORNER.ID – Bursa saham global merosot ke level terendah dalam satu bulan pada perdagangan Selasa (28/7), dipicu aksi jual besar-besaran pada saham-saham semikonduktor.

Investor khawatir terhadap meningkatnya persaingan dari produsen chip China, sekaligus mempertanyakan keberlanjutan investasi besar-besaran pada kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Mengutip Reuters, indeks MSCI All Country World Price Index turun 0,76% ke level terendah sejak 26 Juni. Di Wall Street, indeks Nasdaq Composite yang sarat saham teknologi melemah 1,37%.

Saham-saham produsen chip mencatat penurunan tajam. Micron Technology anjlok 11,7%, Intel turun 8,5%, sementara Nvidia melemah 1,7%.

Tekanan terbesar terjadi di Asia. Indeks KOSPI Korea Selatan merosot lebih dari 10% hingga menyentuh level terendah dalam tiga bulan dan memicu penghentian perdagangan sementara (circuit breaker).

Penurunan tersebut membuat KOSPI menuju pelemahan bulanan terbesar dalam sejarah, bahkan melampaui koreksi saat krisis keuangan Asia 1997.

Padahal, indeks tersebut sempat melonjak lebih dari tiga kali lipat dalam 12 bulan hingga Juni. Namun sejak mencapai puncaknya, nilainya telah terkoreksi lebih dari sepertiga.

Saham produsen chip memori seperti SK Hynix dan Samsung Electronics juga tertekan lebih dari 12%, seiring berakhirnya reli tajam yang sebelumnya didorong optimisme terhadap AI.

Aksi jual terbaru dipicu laporan bahwa China mulai memproduksi mesin litografi deep ultraviolet (DUV) buatan dalam negeri.

Selain itu, debut yang kuat saham produsen chip China CXMT pada Senin (27/7) semakin memicu kekhawatiran meningkatnya persaingan di industri chip memori.

“Perusahaan-perusahaan yang selama ini membiayai investasi AI atau hyperscaler justru mulai tertinggal karena muncul kekhawatiran terhadap besarnya biaya dan tingkat utang yang harus ditanggung. Kini pasar juga mulai mempertanyakan profitabilitas industri semikonduktor, khususnya di Asia,” ujar Head of Multi-Asset Income Schroders, Dorian Carrell.

Menurutnya, prospek jangka panjang AI masih tetap menarik, tetapi laju pertumbuhan keuntungan yang sangat tinggi seperti beberapa waktu terakhir sulit dipertahankan.

“Kami menilai wajar jika pasar mulai mempertanyakan hal tersebut,” katanya.

Meski demikian, laporan keuangan yang lebih baik dari perkiraan dari Unilever dan Mercedes-Benz membantu bursa Eropa mencatat kinerja lebih baik dibandingkan kawasan lain.

Fokus investor kini tertuju pada laporan keuangan empat raksasa teknologi Amerika Serikat, yakni Microsoft, Amazon, Meta, dan Apple.

Keempat perusahaan tersebut merupakan investor terbesar di sektor AI sehingga hasil kinerjanya akan menjadi indikator penting apakah belanja besar untuk AI mulai menghasilkan keuntungan yang sepadan.

Pekan lalu, laporan keuangan Alphabet dan Tesla yang menunjukkan arus kas negatif telah memicu kekhawatiran investor terhadap besarnya biaya investasi AI.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent melanjutkan penurunan hampir 9% pada Senin dengan kembali melemah 1,87% menjadi US$ 86,71 per barel.

Penurunan terjadi setelah meredanya konflik antara Amerika Serikat dan Iran menyusul penghentian serangan udara AS pada akhir pekan.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran berlangsung positif dan peluang tercapainya kesepakatan masih terbuka.

Sementara itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun turun menjadi 4,612% dari 4,641% pada perdagangan sebelumnya.

Pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 32% bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada pertemuan kebijakan yang hasilnya diumumkan Rabu (29/7).

Head of U.S. Economics TD Securities, Oscar Munoz, menilai kenaikan harga minyak akibat konflik Timur Tengah memang sempat meningkatkan risiko inflasi dan memperkuat argumen kenaikan suku bunga.

Namun, menurutnya, bank sentral AS masih membutuhkan lebih banyak bukti sebelum mengambil langkah tersebut.

Di pasar valuta asing, euro menguat tipis 0,05% menjadi US$ 1,1373.

Sementara yen Jepang melemah tipis ke level 163,83 per dolar AS, masih berada di dekat level terendah dalam empat dekade sehingga pasar terus mewaspadai potensi intervensi pemerintah Jepang, terutama jika Bank of Japan mempertahankan suku bunga pada pekan ini.