BeritaBisnis

Fundamental Indonesia Tetap Kuat, AI dan Hilirisasi jadi Katalis Pertumbuhan Ekonomi

Avatar photo
4
×

Fundamental Indonesia Tetap Kuat, AI dan Hilirisasi jadi Katalis Pertumbuhan Ekonomi

Sebarkan artikel ini
Fundamental Indonesia Tetap Kuat, AI dan Hilirisasi jadi Katalis Pertumbuhan Ekonomi


MOMSMONEY.ID – Di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks, mulai dari rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok hingga meningkatnya fragmentasi ekonomi dunia, memahami arah perubahan global menjadi prioritas investor dan pelaku usaha saat ini. 

Untuk itu, Bank DBS Indonesia menghadirkan DBS Insights Forum 2026 yang bertajuk “A New Lens on a Multipolar World”, sebuah forum diskusi lintas disiplin. Dalam acara ini turut hadir Founder and Chairman Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal, Executive Director Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya, Head of Investment & Insurance Product Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia Djoko Soelistyo, Head of Market Intelligence PT Bank DBS Indonesia Boy Suhendry, sejumlah pakar terkini, mitra manajer investasi, serta jajaran ahli Bank DBS Indonesia lainnya. 

Rangkaian acara ini membahas perspektif strategis mengenai perkembangan ekonomi global, prospek Indonesia, serta strategi investasi yang relevan di tengah ketidakpastian pasar. 

Lanskap ekonomi terkini ditandai dengan kembalinya konfigurasi dua kekuatan besar dunia setelah lebih dari tiga dekade era unipolar pasca-Perang Dingin. Persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok kini meluas dari militer ke ekonomi, teknologi, hingga diplomasi, dan berdampak pada volatilitas pasar dari Timur Tengah hingga Indo-Pasifik. 

Hal ini tecermin dari data Economic Surprise Index Bloomberg per pertengahan Juli 2026: indeks Amerika Serikat berada di level 55,0, menandakan data ekonomi yang konsisten lebih kuat dari ekspektasi, sementara indeks Tiongkok di angka -20,8, mengindikasikan rilis data yang masih di bawah perkiraan, berbeda dengan Asia Pasifik yang mencatatkan optimisme di level 51,5.

Di tengah polarisasi tersebut, negara-negara middle powers diperkirakan akan memainkan peran yang semakin penting dalam dua hingga tiga dekade mendatang. Dengan posisi strategis, ukuran ekonomi yang terus bertumbuh, serta stabilitas geopolitik yang relatif terjaga, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu penggerak utama di kawasan.

Founder and Chairman Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal, menilai Indonesia memiliki modal geopolitik yang semakin kuat dibandingkan beberapa dekade lalu. “Kita bukan lagi negara dunia ketiga, kita adalah negara G20 dengan pendapatan ekonomi menengah ke atas,” kata Dino dalam keterangan tertulis, Selasa (28/7). 

Geopolitik kita relatif aman karena rivalitas global saat ini tidak secara langsung mengarah ke Indonesia. Ini merupakan modal penting untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra strategis berbagai negara sekaligus menjaga stabilitas kawasan. Namun, modal geopolitik saja tidak cukup, Dino mengatakan Indonesia tetap membutuhkan langkah-langkah konkret untuk memenangkan kepercayaan pasar dunia. 

Di tengah tingginya mobilitas modal global, investor akan terus mencari negara yang mampu menghadirkan kepastian kebijakan, stabilitas ekonomi, dan prospek pertumbuhan jangka panjang. Apalagi, tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini tidak lagi semata-mata menjaga stabilitas politik dan keamanan, tetapi juga membangun kepercayaan.

Sejalan dengan perkembangan tersebut, Bank DBS Indonesia melihat perubahan lanskap global juga menghadirkan peluang investasi baru yang perlu disikapi secara strategis. Head of Investment & Insurance Products, Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia Djoko Sulistyo mengatakan bahwa keputusan investasi saat ini perlu didasarkan pada tren struktural jangka panjang, bukan hanya sentimen pasar jangka pendek.

Di tengah perubahan lanskap global, investor perlu melihat peluang secara lebih luas dengan mempertimbangkan kekuatan fundamental setiap kawasan. “Saat ini kami melihat terdapat tiga kawasan utama yang menarik untuk dicermati, yaitu Amerika Serikat, Tiongkok, serta Asia termasuk Indonesia,” jelas Djoko. 

Amerika Serikat masih menjadi pemimpin dalam inovasi teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI). Tiongkok berhasil mengakselerasi pemanfaatan AI ke berbagai sektor industri sehingga meningkatkan produktivitas, sementara Asia, termasuk Indonesia, memperoleh manfaat dari pergeseran rantai pasok global dan pertumbuhan ekonomi regional. 

“Sebagai mitra tepercaya dalam pengelolaan kekayaan, Bank DBS Indonesia terus menghadirkan insights regional dan panduan investasi agar nasabah dapat mengambil keputusan secara lebih percaya diri,” jelas Djoko.

Selain menjadi pusat pertumbuhan ekonomi global, Asia juga memainkan peran strategis dalam rantai pasok industri masa depan, mulai dari produksi semikonduktor di Taiwan dan Korea Selatan hingga pasokan mineral kritis seperti nikel, tembaga, dan bauksit dari Indonesia. 

Dengan konsumsi domestik yang kuat serta ketergantungan terhadap ekspor yang relatif lebih rendah dibandingkan sejumlah negara di kawasan, Indonesia dinilai memiliki daya tahan ekonomi yang lebih baik terhadap gejolak eksternal.

Di saat yang sama, pesatnya investasi global di sektor AI juga membuka peluang baru bagi Indonesia sebagai salah satu produsen utama nikel dan mineral strategis yang dibutuhkan dalam rantai pasok industri teknologi masa depan. Pertumbuhan investasi AI diperkirakan akan meningkatkan permintaan terhadap berbagai komoditas strategis Indonesia sehingga menjadi salah satu katalis positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional dalam jangka menengah.