PRESSCORNER.ID – Domino’s Pizza membukukan kinerja kuartalan yang berada di bawah ekspektasi pasar untuk kuartal kedua berturut-turut.
Pelemahan permintaan konsumen, persaingan yang semakin ketat, dan ketidakpastian ekonomi menjadi faktor utama yang menekan penjualan dan laba perusahaan.
Mengutip Reuters, Senin (20/7/2026), penjualan gerai yang telah beroperasi minimal satu tahun (same-store sales) Domino’s di Amerika Serikat hanya naik 0,1% pada kuartal yang berakhir 14 Juni 2026.
Angka tersebut lebih rendah dari proyeksi analis yang memperkirakan kenaikan 0,62%, berdasarkan data LSEG.
Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun lalu, penjualan gerai sejenis masih tumbuh 3,4%.
Domino’s menilai konsumen di Amerika Serikat masih menahan belanja untuk kebutuhan nonprimer, termasuk makan di luar rumah, di tengah kekhawatiran terhadap tingginya biaya hidup dan pasar tenaga kerja yang melambat.
Ketegangan yang kembali meningkat di Timur Tengah juga memperbesar ketidakpastian ekonomi. Lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran akan kenaikan biaya bahan bakar dan transportasi yang berpotensi mendorong inflasi.
CEO Domino’s yang akan segera mengakhiri masa jabatannya Russell Weiner mengatakan, industri restoran cepat saji di Amerika Serikat masih menghadapi tekanan.
Pernyataan tersebut sejalan dengan komentarnya pada April lalu yang menyebut sentimen konsumen sempat turun ke level terendah sejak pandemi Covid-19 akibat tekanan inflasi terhadap daya beli masyarakat.
Untuk menarik pelanggan, Domino’s memperkuat berbagai program promosi seperti Mix and Match dan Emergency Pizza, serta menambahkan menu Parmesan-Stuffed Crust Pizza ke dalam paket promosi Best Deal Ever yang menyasar konsumen yang semakin sensitif terhadap harga.
Persaingan juga semakin ketat dari gerai pizza lokal yang menawarkan produk buatan tangan (handcrafted pizza).
Menurut sejumlah pengamat, pelaku usaha lokal mulai merebut pangsa pasar jaringan restoran besar berkat citra merek yang kuat, kedekatan dengan komunitas, serta produk yang dinilai lebih autentik.
Selain itu, meningkatnya penggunaan obat penurun berat badan golongan GLP-1 dan tren pola makan yang lebih sehat turut menjadi tantangan baru bagi jaringan restoran pizza nasional.
Dari sisi kinerja keuangan, Domino’s membukukan laba US$ 4,07 per saham, lebih rendah dibandingkan ekspektasi analis sebesar US$ 4,17 per saham.
Kinerja di pasar internasional juga melemah. Penjualan gerai sejenis di luar Amerika Serikat turun 0,1%, berbanding terbalik dengan proyeksi analis yang memperkirakan kenaikan 0,5%. Pada periode yang sama tahun lalu, penjualan internasional masih tumbuh sekitar 2,4%.
Meski demikian, pendapatan Domino’s pada kuartal II mencapai US$ 1,19 miliar, sedikit melampaui estimasi analis sebesar US$ 1,18 miliar.











