BeritaBisnis

Bank Indonesia Diramal Naikkan Suku Bunga Jadi 6% di Juli 2026, Ini Alasannya

Avatar photo
7
×

Bank Indonesia Diramal Naikkan Suku Bunga Jadi 6% di Juli 2026, Ini Alasannya

Sebarkan artikel ini
Bank Indonesia Diramal Naikkan Suku Bunga Jadi 6% di Juli 2026, Ini Alasannya


PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) diperkirakan kembali menaikkan suku hunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6.00% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli 2026.

Lead Economist Bank Danamon Irman Faiz membeberkan, BI akan menaikkan suku bunga sejalan dengan kondisi inflasi utama mendekati batas atas kisaran target BI sebesar 2,5% plus minus 1%, dan tekanan depresiasi rupiah yang terus berlanjut.

“Kami memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga kebijakan menjadi 6,00% pada pertemuan Juli, dengan suku bunga terminal berpotensi mencapai 6,25%,” tutur Faiz dalam keterangannya, dikutip Minggu (19/7/2026).

Disisi global, ia melihat The Fed memiliki ruang untuk mempertahankan kebijakan saat ini. Inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih rendah telah mengurangi ekspektasi pengetatan kebijakan The Fed lebih lanjut dalam waktu dekat, sehingga mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS dan DXY turun.

“Namun, ketegangan geopolitik dan volatilitas harga minyak terus menimbulkan risiko kenaikan inflasi,” jelasnya.

Faiz melihat, saat ini Indonesia menghadapi tantangan inflasi yang didorong oleh pasokan. PMI manufaktur semakin terpuruk, namun produsen telah mulai meneruskan kenaikan biaya bahan baku, transportasi, dan energi ke harga jual, menunjukkan inflasi yang sedang meningkat meskipun permintaan melemah.

Sejalan dengan itu, Permintaan domestik terus melemah. Kepercayaan konsumen datar pada bulan Juni, penjualan ritel semakin terkontraksi, dan sentimen bisnis melemah karena kenaikan biaya membebani produksi, perekrutan, dan ekspektasi pendapatan rumah tangga.

Ketahanan konsumen semakin tidak merata. Rumah tangga berpenghasilan tinggi terus menunjukkan kinerja yang lebih baik, sementara kepercayaan masyarakat berpenghasilan menengah melemah dan pekerja berpenghasilan rendah tetap paling rentan terhadap PHK.

“Tabungan pencegahan yang tinggi membantu meredam perlambatan tersebut,” ungkapnya.