BeritaBisnis

Data Center Indonesia Tumbuh Pesat, AI dan Cloud Jadi Mesin Penggerak

Avatar photo
9
×

Data Center Indonesia Tumbuh Pesat, AI dan Cloud Jadi Mesin Penggerak

Sebarkan artikel ini
Data Center Indonesia Tumbuh Pesat, AI dan Cloud Jadi Mesin Penggerak


PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Industri pusat data (data center) di Indonesia diproyeksikan terus bertumbuh pesat seiring meningkatnya kebutuhan layanan digital, komputasi awan (cloud computing), dan pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Bahkan, laju pertumbuhan data center di Indonesia dinilai melampaui rata-rata pertumbuhan global.

Secretary General Indonesia Data Center Ecosystem Council, Erick Hadi, mengatakan secara global industri data center tumbuh sekitar 20% hingga 25% per tahun.

Namun, Indonesia mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi karena tidak hanya didorong permintaan domestik, tetapi juga perpindahan investasi dari negara tetangga.

Menurut Erick, sejak Singapura menghentikan pembangunan data center baru pada 2019, sebagian investasi mulai bergeser ke Malaysia dan Indonesia.

Kini, ketika Johor mulai menghadapi keterbatasan pasokan listrik dan air, Indonesia menjadi salah satu tujuan utama pengembangan fasilitas data center di kawasan Asia Tenggara.

Kondisi tersebut juga didorong oleh kebutuhan para penyedia layanan cloud global dan perusahaan teknologi berskala besar (hyperscaler) yang membutuhkan jaringan pusat data di berbagai negara untuk mempercepat distribusi data dan layanan digital di kawasan.

Selain itu, perkembangan teknologi AI semakin memperbesar kebutuhan pembangunan data center.

Berbeda dengan aplikasi digital konvensional, AI membutuhkan kapasitas komputasi dan penyimpanan data yang jauh lebih besar sehingga mendorong peningkatan investasi pada infrastruktur digital.

“Pertumbuhan data center di Indonesia lebih cepat dibandingkan rata-rata global. Ini bukan hanya karena kebutuhan domestik, tetapi juga adanya perpindahan kapasitas dari Singapura ke Malaysia dan Indonesia,” ujar Erick kepada KONTAN, Senin (6/7/2026).

Di sisi lain, Erick menilai pasokan listrik di Indonesia masih belum menjadi kendala utama bagi industri ini.

Pengembang data center umumnya telah mengamankan kontrak pasokan listrik jangka panjang sebelum proyek dimulai sehingga kebutuhan energi sudah diperhitungkan sejak tahap investasi.

Meski demikian, ia mengingatkan tantangan terbesar berikutnya adalah ketersediaan sumber daya manusia (SDM). Seiring meningkatnya pembangunan fasilitas data center, kebutuhan tenaga kerja juga ikut melonjak, baik pada tahap konstruksi maupun saat operasional.

Satu proyek pembangunan data center diperkirakan mampu menyerap sekitar 900 hingga 2.000 tenaga kerja, tergantung kapasitas fasilitas yang dibangun.

Untuk data center berkapasitas sekitar 500 megawatt (MW), kebutuhan pekerja selama masa konstruksi dapat mencapai 1.500 hingga 2.000 orang.

Kebutuhan tersebut tidak hanya mencakup tenaga insinyur, tetapi juga berbagai profesi pendukung yang memiliki keahlian sesuai standar operasional industri data center.

Setelah fasilitas beroperasi, perusahaan juga masih memerlukan tenaga kerja untuk menjalankan operasional dan pemeliharaan.

Dengan tren digitalisasi, adopsi cloud, serta perkembangan AI yang terus meningkat, Erick optimistis prospek industri data center di Indonesia masih sangat besar.

Namun, agar pertumbuhan tersebut berkelanjutan, pengembangan infrastruktur digital perlu diimbangi dengan peningkatan jumlah talenta digital dan tenaga engineering yang mampu memenuhi kebutuhan industri di masa mendatang.