PRESSCORNER.ID – EVIAN-LES-BAINS. Para pemimpin negara-negara G7 mempercepat upaya mengurangi ketergantungan Barat terhadap pasokan mineral kritis dari China.
Dalam pertemuan puncak G7 yang berakhir Rabu (17/6)/2026, Prancis mendorong lahirnya kesepakatan bersama untuk memperkuat rantai pasok mineral strategis sekaligus melindungi investasi Barat dari risiko pembatasan ekspor dan praktik dumping.
Isu mineral kritis menjadi salah satu agenda utama dalam KTT G7 tahun ini setelah pembatasan ekspor magnet tanah jarang yang diterapkan China pada 2025 sempat mengganggu berbagai industri global.
Kebijakan tersebut memperlihatkan tingginya ketergantungan sektor energi, pertahanan, hingga teknologi Barat terhadap pasokan bahan baku dari Negeri Tirai Bambu.
Seorang pejabat Kepresidenan Prancis mengatakan negosiasi tengah berlangsung untuk menghasilkan kesepakatan yang dinilai penting bagi kedaulatan ekonomi negara-negara G7.
“Kami sedang merundingkan teks yang signifikan mengenai mineral kritis dan, sebagai konsekuensinya, mengenai kedaulatan ekonomi,” ujarnya.
Dalam beberapa bulan terakhir, negara-negara G7 membahas berbagai opsi untuk memperkuat rantai pasok di luar China.
Langkah yang dipertimbangkan antara lain dukungan harga, standar pasar, subsidi, jaminan pembelian, hingga skema untuk memperbesar investasi swasta pada proyek mineral kritis di berbagai negara.
Meski demikian, sejumlah diplomat mengakui langkah-langkah yang akan diumumkan kemungkinan masih menjadi tahap awal karena dominasi China di sektor ini telah dibangun selama puluhan tahun.
China selama ini menjadi pemain utama dalam pengolahan dan perdagangan berbagai mineral strategis serta logam baterai.
Selain membatasi ekspor magnet tanah jarang, Beijing juga memperketat akses perusahaan-perusahaan Amerika Serikat terhadap sejumlah bahan penting seperti tungsten dan antimon.
Di sisi lain, negara-negara Barat kini berlomba mengamankan pasokan dari tambang-tambang baru serta membangun kapasitas pengolahan dan daur ulang sendiri.
Namun, upaya tersebut diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum mampu mengurangi dominasi China secara signifikan.
Selain membahas mineral kritis, para pemimpin G7 juga menyoroti ketidakseimbangan ekonomi global yang dinilai semakin tajam.
Prancis menilai China memproduksi terlalu banyak, Amerika Serikat mengonsumsi terlalu banyak, sementara Eropa berinvestasi terlalu sedikit.
Kekhawatiran di Eropa meningkat seiring melonjaknya surplus perdagangan China dan naiknya posisi negara tersebut dalam rantai nilai industri global. Sejumlah analis bahkan menyebut fenomena ini sebagai “guncangan China kedua” setelah gelombang dominasi produk manufaktur berbiaya rendah pada awal 2000-an.
Presiden Prancis Emmanuel Macron disebut sempat melakukan pendekatan kepada Beijing menjelang KTT guna mencari ruang kerja sama. Namun, China menolak tudingan Uni Eropa terkait subsidi yang dianggap tidak adil dan telah memperingatkan akan mengambil langkah balasan terhadap sejumlah kebijakan industri dan perdagangan baru Uni Eropa.
Uni Eropa sendiri tercatat mengalami defisit perdagangan terbesar sepanjang sejarah dengan China pada tahun lalu, yang nilainya melampaui 360 miliar euro.
Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, menegaskan strategi Eropa bukan memutus hubungan ekonomi dengan China, melainkan mengurangi risiko ketergantungan.
“Strategi kami sangat jelas: mengurangi risiko, bukan memutus hubungan,” katanya.
Di luar isu perdagangan dan mineral kritis, para pemimpin G7 juga dijadwalkan membahas perkembangan kecerdasan buatan (AI), termasuk tanggung jawab hukum chatbot dan agen AI serta tantangan penyebaran informasi benar dan salah di era digital. Pendiri Sam Altman dan CEO Dario Amodei disebut akan menghadiri sesi diskusi tersebut.











