PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Tim nasional Brasil harus puas berbagi angka setelah bermain imbang 1-1 melawan Maroko dalam laga pembuka Grup C Piala Dunia yang berlangsung di East Rutherford, New Jersey, Sabtu (13/6/2026).
Pertandingan yang menjadi salah satu duel besar di fase grup tersebut memperlihatkan potensi besar Maroko, sekaligus mengungkap sejumlah kelemahan yang masih dimiliki Brasil di bawah arahan pelatih Carlo Ancelotti.
Maroko membuka keunggulan lebih dulu melalui Ismael Saibari pada babak pertama sebelum Vinicius Junior menyamakan kedudukan lewat aksi individu gemilang, sehingga kedua tim harus puas membawa pulang satu poin.
Hasil imbang ini membuat persaingan di Grup C tetap terbuka menjelang pertandingan Haiti melawan Skotlandia yang dijadwalkan berlangsung pada hari yang sama.
Bagi Maroko, yang pernah mencapai semifinal Piala Dunia 2022, penampilan tersebut semakin menegaskan bahwa mereka mampu bersaing dengan kekuatan-kekuatan tradisional sepak bola dunia.
Sebaliknya, Brasil masih menyisakan sejumlah pekerjaan rumah setelah tampil kurang meyakinkan dan beberapa kali kesulitan menghadapi kecepatan serta pergerakan para pemain Maroko.
Pelatih Brasil Carlo Ancelotti mengakui timnya tidak tampil optimal sejak awal pertandingan.
“Saya rasa kami tidak memulai pertandingan dengan baik. Tim terlihat sedikit gugup, kami terlalu sering kehilangan penguasaan bola dan kalah dalam banyak duel. Babak pertama tidak berjalan baik,” ujar Ancelotti.
Ia menilai performa timnya membaik setelah jeda turun minum.
“Permainan membaik pada babak kedua. Ini pertandingan yang sulit karena Maroko adalah tim yang bagus. Saya pikir ada sedikit rasa gugup. Pada babak pertama mereka mampu keluar dari tekanan kami dan melancarkan serangan balik yang sangat berbahaya,” tambahnya.
Sementara itu, pelatih Maroko Mohamed Ouahbi menegaskan target timnya melampaui pencapaian di Piala Dunia 2022. “Jika Anda bertanya apakah saya ingin memiliki perjalanan yang sama seperti pada 2022, jawabannya tidak. Saya ingin melangkah lebih jauh dari semifinal kali ini.”
Ia juga mengaku timnya sebenarnya berharap meraih kemenangan. “Ini memang satu poin, tetapi kami berharap bisa mendapatkan lebih banyak. Satu poin sudah cukup baik dan kami akan terus berkembang,” katanya.
Maroko Tampil Lebih Menekan Sejak Awal
Maroko langsung tampil agresif sejak menit-menit awal dengan membangun serangan melalui kedua sisi lapangan. Achraf Hakimi dan Bilal El Khannouss beberapa kali merepotkan lini pertahanan Brasil, sementara tim Samba lebih banyak mengandalkan serangan balik.
Tim asal Afrika itu berulang kali mampu menembus lini tengah Brasil dengan mudah, memanfaatkan celah antarlini. Gelandang muda Ayyoub Bouaddi juga menunjukkan kualitasnya sepanjang pertandingan.
Peluang pertama Brasil hadir pada menit ke-14, tetapi Igor Thiago gagal memaksimalkan kesempatan setelah sundulannya tidak mengarah dengan baik.
Tujuh menit kemudian, kelemahan pertahanan Brasil kembali terlihat.
Lucas Paqueta kehilangan bola di lini tengah sehingga Brahim Diaz berhasil mengirim umpan kepada Ismael Saibari. Bek tengah Marquinhos dan Gabriel terlambat mengantisipasi situasi tersebut.
Kiper Alisson turut melakukan kesalahan dengan keluar dari sarangnya pada waktu yang kurang tepat, sehingga Saibari dengan tenang mencungkil bola melewati sang penjaga gawang untuk membawa Maroko unggul 1-0.
Brasil terus mengalami kesulitan menghadapi intensitas permainan dan organisasi pertahanan Maroko. Namun, dominasi Maroko tidak berhasil dikonversi menjadi gol tambahan.
Sebaliknya, Brasil mampu menyamakan skor pada menit ke-32 berkat aksi individu Vinicius Junior.
Menerima umpan Bruno Guimaraes di sisi kiri kotak penalti, Vinicius bergerak ke dalam sebelum melepaskan tembakan keras dengan kaki kanan yang meluncur ke sudut atas gawang tanpa mampu dihentikan kiper Yassine Bounou.
Menjelang turun minum, Brasil hampir berbalik unggul melalui tendangan salto Lucas Paqueta, tetapi Bounou melakukan penyelamatan gemilang.
Brasil Lebih Menguasai Babak Kedua
Memasuki babak kedua, Ancelotti melakukan perubahan dengan memasukkan Fabinho dan Danilo menggantikan Casemiro serta Roger Ibanez yang tampil kurang maksimal pada paruh pertama.
Pergantian tersebut membuat Brasil lebih menguasai jalannya pertandingan dan mampu menekan Maroko lebih dalam.
Meski demikian, Brasil tetap kesulitan menciptakan peluang bersih hingga menit ke-78 ketika Raphinha menerima umpan silang dari Vinicius Junior.
Memasuki fase akhir laga, kedua tim cenderung bermain lebih hati-hati dan menghindari pengambilan risiko.
Brasil sempat memperoleh tambahan energi pada menit-menit terakhir melalui pemain pengganti Matheus Cunha yang nyaris mencetak gol kemenangan. Namun, tim berjuluk Selecao itu belum mampu menampilkan permainan dominan seperti yang selama ini menjadi ciri khas mereka.
Dengan hasil imbang tersebut, baik Brasil maupun Maroko masih memiliki peluang besar untuk finis sebagai juara Grup C dan memperoleh jalur yang lebih menguntungkan menuju babak gugur Piala Dunia.











