PRESSCORNER.ID – Harga rumah di Australia tidak mengalami perubahan pada Mei 2026 setelah mencatatkan reli panjang hingga mencapai rekor tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Data lembaga riset properti Cotality yang dirilis Senin (1/6/2026) menunjukkan pasar perumahan Australia mulai kehilangan momentum akibat kombinasi kenaikan suku bunga, konflik Timur Tengah yang mendorong biaya energi lebih tinggi, serta rencana perubahan kebijakan pajak properti.
Bank Sentral Australia atau Reserve Bank of Australia (RBA) telah menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali sepanjang tahun ini, yakni pada Februari, Maret, dan Mei, sehingga suku bunga acuan kini berada di level 4,35%.
Langkah tersebut dilakukan untuk menekan inflasi dan sekaligus menghapus seluruh pelonggaran kebijakan moneter yang diberikan pada tahun lalu.
Sydney dan Melbourne Pimpin Penurunan
Secara nasional, harga rumah Australia tercatat stagnan pada Mei setelah sebelumnya terus mencatat kenaikan bulanan dan mencapai level tertinggi sejak awal 2025.
Penurunan terbesar terjadi di dua kota terbesar Australia:
- Sydney turun 0,9% secara bulanan.
- Melbourne turun 0,8%.
Selain harga yang melemah, volume transaksi penjualan juga menurun. Jumlah rumah yang dipasarkan di kedua kota tersebut kini berada di atas rata-rata historis.
Bahkan kawasan yang sebelumnya tergolong lebih terjangkau di Sydney dan Melbourne, yang sempat terdorong oleh berbagai insentif pemerintah bagi pembeli rumah pertama, juga mulai mengalami koreksi harga.
Kota Lain Masih Tumbuh, Namun Melambat
Sementara itu, sejumlah kota besar lainnya masih mencatat kenaikan harga, meski lajunya lebih lambat dibanding sebelumnya.
- Perth naik 1,5%
- Brisbane naik 0,9%
- Adelaide naik 0,5%
Kenaikan di kota-kota tersebut masih ditopang oleh terbatasnya pasokan properti yang tersedia di pasar.
Direktur Riset Cotality Tim Lawless mengatakan, perbedaan kinerja antarwilayah memang masih terlihat, namun tren perlambatan mulai terjadi secara lebih merata.
“Meski kecepatan perubahan harga masih berbeda di setiap kota, arahnya kini semakin seragam. Sebagian besar pasar mulai kehilangan momentum seiring meningkatnya berbagai tekanan dari sisi permintaan,” ujarnya.
Tekanan Terhadap Pasar Properti Meningkat
Selain dampak kenaikan biaya pinjaman, sentimen pasar juga tertekan oleh melonjaknya biaya energi akibat konflik di Timur Tengah yang mengurangi kepercayaan konsumen dan pelaku usaha.
Di sisi lain, rencana perubahan pajak properti mendorong sebagian investor melepas aset mereka, sehingga menambah pasokan rumah di pasar dan meningkatkan tekanan terhadap harga.











