PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Minat investor asal Tiongkok untuk memperluas penanaman modal di Indonesia masih menunjukkan tren positif, terutama di sektor hilirisasi industri, ekonomi digital, hingga pengembangan teknologi baru.
Di tengah dinamika geopolitik dan geoekonomi global, hubungan ekonomi antara Indonesia dan China justru semakin strategis dan saling menguatkan.
Duta Besar RI untuk China, Djauhari Oratmangun, menyampaikan bahwa Tiongkok masih menjadi salah satu mitra dagang utama sekaligus sumber investasi terbesar bagi Indonesia.
“Tidak ada pilihan lain selain kita memperkuat kerja sama, baik dalam konteks hubungan Indonesia-China maupun hubungan ASEAN-China,” ujar Djauhari dalam forum bisnis Indonesia-China di Jakarta, Rabu (27/5/2026).
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya posisi strategis kemitraan ekonomi antara kedua negara, sekaligus memperkuat kerja sama kawasan melalui ASEAN yang menjadi platform integrasi ekonomi regional.
Perdagangan Indonesia-China Hampir Tembus US$ 170 Miliar
Djauhari mengungkapkan bahwa nilai perdagangan bilateral Indonesia dan China pada 2025 hampir mencapai US$ 170 miliar. Sementara itu, realisasi investasi dari China ke Indonesia diperkirakan mencapai sekitar US$ 7,5 miliar.
Angka tersebut menunjukkan bahwa hubungan ekonomi kedua negara masih berada pada jalur pertumbuhan yang kuat, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global yang memengaruhi arus investasi internasional.
Hilirisasi Jadi Motor Utama Investasi
Fokus utama kerja sama ekonomi Indonesia dan China saat ini adalah proyek strategis nasional, khususnya pada sektor hilirisasi industri. Salah satu yang paling menonjol adalah hilirisasi nikel yang telah memberikan dampak signifikan terhadap ekspor Indonesia.
“Dengan hilirisasi nikel saja, ekspor produk-produk turunan nikel tahun lalu meningkat di atas 1.000% ke China,” katanya.
Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa strategi hilirisasi tidak hanya meningkatkan nilai tambah komoditas, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global, khususnya di industri baterai dan kendaraan listrik.
Sektor Energi dan Ekonomi Digital Jadi Incaran
Selain hilirisasi, sejumlah sektor lain juga menjadi magnet bagi investor China. Di antaranya adalah pengembangan ekosistem kendaraan listrik (EV), energi baru terbarukan, ekonomi digital, kecerdasan buatan (AI), pusat industri, hingga pembangunan infrastruktur.
Djauhari juga menyoroti potensi besar di sektor transformasi energi seperti waste to energy, panel surya, dan kendaraan listrik yang dinilai akan menjadi pilar kerja sama masa depan kedua negara.
Menurut dia, sektor-sektor tersebut memiliki prospek jangka panjang seiring dengan agenda transisi energi global dan percepatan digitalisasi ekonomi.
Infrastruktur dan Kesehatan Jadi Bidang Strategis
Dalam sektor infrastruktur, Djauhari mencontohkan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung sebagai bukti nyata sinergi investasi antara Indonesia dan China. Ia menegaskan bahwa kerja sama di sektor infrastruktur masih akan terus diperluas, termasuk ke sektor kesehatan.
“Pengembangan ekosistem kesehatan menjadi bentuk kerja sama yang potensial dengan China di masa depan,” ujarnya.
Penguatan sektor kesehatan dipandang semakin penting, terutama pascapandemi yang mendorong kebutuhan investasi pada layanan kesehatan modern dan teknologi medis.
Potensi Besar Ekspor Pangan, Termasuk Durian
Selain sektor industri dan infrastruktur, Djauhari juga melihat peluang besar dari sektor pangan. Salah satu yang paling menjanjikan adalah ekspor durian Indonesia ke pasar China, yang memiliki nilai pasar sangat besar.
Ia menyebut total pasar durian di China mencapai sekitar US$ 7,5 miliar.
“Kalau kita kuasai saja 10% tahun ini, kita bisa meraup US$ 750 juta,” katanya.
Peluang ini membuka ruang ekspansi baru bagi produk pertanian Indonesia untuk masuk lebih dalam ke pasar konsumsi terbesar di Asia tersebut.
Iklim Investasi Indonesia Makin Kondusif
Djauhari menegaskan bahwa pemerintah Indonesia terus berupaya menjaga daya tarik investasi melalui penguatan iklim usaha dan stabilitas pembangunan. Ia menilai regulasi investasi saat ini semakin kondusif bagi investor asing.
“Data investasi yang masuk menjadi indikasi positif bahwa sistem aturan investasi kita sudah semakin kondusif,” ujarnya.
Selain itu, keberadaan proyek strategis nasional serta pembentukan Danantara turut menjadi sinyal positif bagi investor global, termasuk dari China.
Hubungan Ekonomi yang Saling Melengkapi
Djauhari optimistis bahwa hubungan ekonomi Indonesia dan China akan terus menguat di masa mendatang, didukung oleh peningkatan jejaring bisnis dan kerja sama pendidikan antar kedua negara.
Menurutnya, kedua negara memiliki keunggulan yang saling melengkapi dalam struktur ekonomi global.
“Indonesia memiliki pasar besar dan bonus demografi, sementara China memiliki manufacturing capability, teknologi, dan innovation ecosystem yang kuat,” tutupnya.











