PRESSCORNER.ID – BUNIA. Para petugas medis berupaya keras menangkal penyebaran wabah Ebola di bagian timur Republik Demokratik Kongo atawa Democratic Republic of Congo (DRC). Deteksi yang terlambat dan penyebaran yang cepat membuat para pakar kesehatan khawatir.
Reuters melaporkan, delegasi yang dipimpin oleh Menteri Kesehatan DRC Samuel Roger Kamba tiba di Bunia, ibu kota Ituri, pada Minggu (17/5/2026) waktu setempat, dengan membawa tenda untuk mendirikan pusat perawatan guna mendukung rumah sakit setempat yang kewalahan.
“Ini bukan penyakit mistis. Laporkan kondisi Anda agar Anda dapat ditangani dan agar kita dapat mencegah penyebaran penyakit ini,” seru Kamba kepada masyarakat DRC, seperti dikutip Reuters, Senin (18/5/2026).
Perwakilan World Health Organization (WHO) di DRC, Anne Ancia, mengatakan, WHO telah mengosongkan persediaan peralatan pelindung di Kinshasa, ibukota DRC. WHO sekarang sedang mempersiapkan pesawat kargo untuk membawa pasokan tambahan dari depot di Kenya.
Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa mengatakan, Senin (18/5/2026), mereka akan mengirimkan seorang ahli ke markas mitra di Ethiopia untuk mendukung perencanaan operasional. CDC AS mengatakan berencana untuk mengirim lebih banyak orang ke kantornya di DRC dan Uganda.
Pada Senin (18/5/2026), kedutaan besar AS di Uganda mengatakan telah menangguhkan sementara semua layanan visa di Uganda, mengingat wabah virus Ebola di negara Afrika Timur tersebut. Seorang saksi Reuters mengatakan, warga Kongo yang mencoba menyeberang ke Rwanda dari Bukavu dihentikan oleh pihak berwenang di perbatasan.
Jean Pierre Badombo, mantan walikota Mongbwalu, sebuah kota pertambangan di Ituri yang menjadi pusat wabah, mengatakan orang-orang mulai jatuh sakit pada April. Penyakit mulai menular setelah iring-iringan jenazah besar dengan peti terbuka tiba dari Bunia. “Setelah itu, kami mengalami gelombang kematian,” katanya.
WHO menyatakan telah menerima informasi tentang penyakit yang tidak diketahui dengan angka kematian tinggi di Mongbwalu pada 5 Mei. Empat petugas kesehatan juga tercatat meninggal dalam empat hari. WHO mengklaim telah mengirimkan tim respons cepat.
Kendati begitu, terjadi beberapa kesalahan yang mengakibatkan identifikasi wabah Ebola terlambat. Di antaranya kegagalan awal oleh personel di Bunia untuk meningkatkan pengujian sampel lebih lanjut, setelah hasilnya negatif untuk strain Zaire.
Kegagalan ini menyebabkan virus tersebut tidak terdeteksi hingga 14 Mei, kata pejabat kesehatan Kongo kepada Reuters. Wabah baru dinyatakan pada 15 Mei. Lievin Bangali, koordinator kesehatan senior IRC di DRC, mengatakan, penurunan pendanaan dari donor internasional juga telah melemahkan deteksi penyakit.
“Ketika jaringan pengawasan rusak, penyakit berbahaya seperti Ebola dapat menyebar lebih jauh dan lebih cepat sebelum masyarakat dan petugas kesehatan dapat merespons,” papar Bangali.
Wabah saat ini disebabkan oleh virus Bundibugyo. Tidak seperti strain Ebola Zaire yang lebih umum, virus ini belum memiliki terapi atau vaksin khusus virus yang disetujui.
Wabah Ebola strain Zaire yang menyebar di tahun 2018-2020 di provinsi Kivu Utara dan Ituri adalah wabah paling mematikan kedua yang pernah tercatat, menewaskan hampir 2.300 orang. Respons terhadap wabah tersebut dipersulit oleh kekerasan bersenjata yang meluas di Kongo timur, yang berlanjut hingga saat ini.
Kongo telah mengalami 17 wabah Ebola sejak virus tersebut pertama kali diidentifikasi di negara itu pada 1976. Penyakit ini menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi atau bahan yang terkontaminasi.











