PRESSCORNER.ID – WASHINGTON/DUBAI. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan gencatan senjata dengan Iran kini berada “di ujung tanduk” setelah respons Teheran terhadap proposal perdamaian AS menunjukkan kedua pihak masih memiliki perbedaan besar dalam sejumlah isu utama.
Iran meminta penghentian perang di seluruh kawasan, termasuk di Lebanon yang menjadi lokasi konflik antara Israel dan kelompok Hizbullah dukungan Iran.
Selain itu, Teheran juga menuntut kompensasi atas kerusakan perang, penghentian blokade laut AS, jaminan tidak ada serangan lanjutan, serta pemulihan penjualan minyak Iran ke pasar global.
Iran juga kembali menegaskan kedaulatannya atas Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang biasanya mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Saat ini, aktivitas pelayaran di kawasan tersebut masih sangat terganggu.
Trump mengatakan, respons Iran mengancam keberlangsungan gencatan senjata yang berlaku sejak 7 April lalu.
“Saya melihat situasinya sangat lemah sekarang setelah membaca dokumen sampah yang mereka kirimkan. Saya bahkan tidak menyelesaikan membacanya,” ujar Trump dilansir Reuters Senin (11/5/2026).
Sebelumnya, AS mengusulkan penghentian perang lebih dulu sebelum memulai pembicaraan mengenai isu yang lebih sensitif, termasuk program nuklir Iran.
Namun Iran mempertahankan posisinya. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyebut tuntutan negaranya merupakan sesuatu yang sah.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf juga mengatakan, angkatan bersenjata Iran siap memberikan respons tegas terhadap setiap tindakan agresi.
Ketidakpastian perdamaian mendorong harga minyak Brent melonjak sekitar 3% ke atas US$ 104 per barel karena pasar khawatir Selat Hormuz tetap lumpuh dalam waktu lama.
Konflik yang dimulai sejak 28 Februari melalui serangan udara gabungan AS-Israel kini telah memasuki lebih dari dua bulan dan menjadikan Selat Hormuz sebagai titik tekanan utama dalam perang.
Gangguan distribusi energi membuat produsen minyak memangkas ekspor. Survei Reuters menunjukkan produksi minyak OPEC pada April turun ke level terendah dalam lebih dari dua dekade.
AS juga menjatuhkan sanksi baru terhadap individu dan perusahaan yang dituduh membantu Iran mengekspor minyak ke China. Langkah itu disebut sebagai bagian dari upaya menghentikan pendanaan bagi program militer dan nuklir Teheran.
Lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz saat ini hanya berlangsung terbatas dibanding sebelum perang.
Data pelayaran menunjukkan tiga kapal tanker bermuatan minyak mentah berhasil keluar dari kawasan itu pekan lalu dengan alat pelacak dimatikan untuk menghindari potensi serangan Iran.
Sebuah kapal LNG Qatar juga dilaporkan tengah mencoba melintasi selat tersebut setelah sebelumnya ada pengiriman serupa melalui pengaturan khusus yang melibatkan Iran dan Pakistan.
Di dalam negeri AS, perang Iran mulai menjadi beban politik bagi Trump menjelang pemilu sela yang akan menentukan kendali Partai Republik di Kongres.
Survei Reuters/Ipsos menunjukkan dua dari tiga warga AS menilai Trump belum menjelaskan secara jelas tujuan keterlibatan militer AS di Iran.
Sebanyak 66% responden, termasuk sepertiga pemilih Partai Republik, mengatakan Trump gagal menjelaskan sasaran perang tersebut secara meyakinkan.
Qalibaf memanfaatkan, meningkatnya ketidakpuasan publik di AS dengan mengatakan perang berkepanjangan akan semakin membebani rakyat Amerika.
“Semakin lama mereka menunda, semakin besar biaya yang harus ditanggung pembayar pajak Amerika,” tulis Qalibaf di platform X.
Di sisi diplomatik, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan dijadwalkan melakukan pembicaraan di Qatar pada Selasa (12/5) terkait konflik Iran dan keamanan navigasi di Selat Hormuz.
Sementara itu, laporan Wall Street Journal menyebut Uni Emirat Arab (UEA) ikut melakukan serangan militer terhadap Iran, termasuk serangan terhadap kilang minyak di Pulau Lavan bulan lalu. Reuters belum dapat memverifikasi laporan tersebut secara independen.
Trump sendiri dijadwalkan tiba di Beijing pada Rabu (13/5) untuk bertemu Presiden China Xi Jinping. Isu Iran diperkirakan menjadi salah satu agenda utama pembicaraan kedua pemimpin tersebut.











