BeritaInternasional

Rusia Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2026 Jadi 0,4% dari 1,3%, Ini Sebabnya

Avatar photo
3
×

Rusia Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2026 Jadi 0,4% dari 1,3%, Ini Sebabnya

Sebarkan artikel ini
Rusia Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2026 Jadi 0,4% dari 1,3%, Ini Sebabnya


PRESSCORNER.ID – Rusia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk 2026 dan tiga tahun setelahnya, namun tetap mempertahankan proyeksi harga minyak meski harga global melonjak akibat perang di Timur Tengah. Hal itu disampaikan Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak kepada surat kabar Vedomosti dalam wawancara pada Selasa (12/5/2026).

Melansir Reuters, dalam proyeksi terbaru Kementerian Ekonomi, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Rusia untuk 2026 diturunkan menjadi 0,4%, dari sebelumnya 1,3%. Sementara proyeksi pertumbuhan untuk 2027 juga dipangkas menjadi 1,4% dari sebelumnya 2,8%.

Novak mengatakan pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan mencapai 2,4% pada 2029.

Ia menilai perlambatan tersebut memang sudah diperkirakan setelah periode pertumbuhan kuat pada 2023-2024, yang menurut banyak analis didorong oleh belanja militer untuk memenuhi kebutuhan perang di Ukraina.

“Dinamika ekonomi bersifat siklus. Setelah periode pertumbuhan tinggi, selalu ada koreksi, sering kali disertai transformasi struktural. Ini adalah tahap yang normal bagi perekonomian,” kata Novak.

Ia menekankan bahwa perekonomian Rusia berkembang dalam kondisi “tekanan sanksi yang belum pernah terjadi sebelumnya.”

Tabel: Revisi Proyeksi Pertumbuhan PDB Rusia

Tahun Proyeksi Baru Proyeksi Sebelumnya Keterangan
2026 0,4% 1,3% Revisi turun
2027 1,4% 2,8% Revisi turun
2029 2,4% Target pemulihan pertumbuhan

Ekonomi Rusia yang bernilai sekitar US$ 3 triliun, yang terdampak perang di Ukraina, sanksi Barat, serta suku bunga tinggi, mengalami kontraksi 0,3% pada kuartal pertama, menandai penurunan kuartalan pertama sejak awal 2023.

Penurunan ini terjadi setelah kenaikan pajak pada awal tahun dan diskon besar pada harga minyak Rusia akibat sanksi Barat.

Dalam langkah yang cukup mengejutkan, Novak mengatakan kementerian memperkirakan harga minyak yang digunakan untuk perhitungan pendapatan anggaran akan tetap berada di US$ 59 per barel pada 2026.

Harga minyak yang diproyeksikan tersebut setara dengan “cut-off price”, yakni batas harga yang menentukan berapa porsi pendapatan minyak dalam APBN yang dialihkan ke dana cadangan fiskal, yaitu National Wealth Fund.

Harga minyak diperkirakan tetap berada di level US$ 50 per barel selama tiga tahun berikutnya, meski banyak analis sebelumnya memperkirakan Rusia bisa menjadi salah satu pihak yang paling diuntungkan dari lonjakan harga minyak akibat serangan AS dan Israel ke Iran serta blokade Selat Hormuz.

“Penting untuk terus menjalankan kebijakan yang pragmatis dan konservatif. Krisis menciptakan kondisi untuk peningkatan pendapatan ekspor dari minyak dan gas, serta beberapa komoditas lainnya. Namun efek ini tidak bersifat jangka panjang,” kata Novak.

Tonton: Kospi Terbang ke Rekor Baru, Bursa Asia Tak Kompak

Tahun lalu, Presiden Vladimir Putin meminta pemerintah memastikan pertumbuhan ekonomi kembali meningkat pada 2026. Bulan lalu, Putin juga menegur pejabat senior karena perlambatan ekonomi dan meminta mereka menyusun cara baru untuk menopang pertumbuhan.

“Pemerintah secara sistematis bekerja untuk mengembalikan pertumbuhan ekonomi ke jalur jangka panjang yang berkelanjutan, dengan target mencapai atau melampaui rata-rata pertumbuhan global, sekaligus memenuhi tujuan pembangunan nasional,” kata Novak.