BeritaInternasional

Dolar AS Stabil Selasa (12/5) Pagi di Tengah Meredupnya Harapan Damai Timur Tengah

Avatar photo
6
×

Dolar AS Stabil Selasa (12/5) Pagi di Tengah Meredupnya Harapan Damai Timur Tengah

Sebarkan artikel ini
Dolar AS Stabil Selasa (12/5) Pagi di Tengah Meredupnya Harapan Damai Timur Tengah


PRESSCORNER.ID – Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak stabil pada perdagangan Selasa (12/5/2026) di tengah meredupnya harapan perdamaian konflik Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dan memicu kekhawatiran inflasi global.

Melansir Reuters, pelaku pasar kini menilai suku bunga bank sentral AS atau The Fed kemungkinan perlu dipertahankan lebih tinggi untuk waktu lebih lama guna menahan tekanan inflasi.

Kekhawatiran tersebut muncul setelah peluang keberlanjutan gencatan senjata antara AS dan Iran semakin dipertanyakan.

Konflik yang dimulai sejak akhir Februari itu telah menewaskan ribuan orang dan mengganggu arus distribusi energi global.

Dengan Selat Hormuz yang masih sebagian besar tertutup, harga minyak mentah dunia tetap tinggi.

Kontrak Brent naik 0,3% menjadi US$ 104,55 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,13% menjadi US$ 98,17 per barel.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyebut gencatan senjata dengan Iran berada dalam kondisi “on life support” setelah proposal damai terbaru belum menemukan titik temu.

Di pasar mata uang, pergerakan relatif terbatas pada awal perdagangan Asia karena perhatian investor juga tertuju pada kunjungan Trump ke China pekan ini.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga sedang melakukan lawatan ke Jepang dan Korea Selatan untuk menghadiri sejumlah pertemuan ekonomi.

Nilai tukar euro tercatat berada di level US$ 1,1775, sementara poundsterling berada di US$ 1,3602 atau relatif stabil dibanding perdagangan sebelumnya.

Adapun indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia berada di level 97,98.

Strategis mata uang OCBC Christopher Wong mengatakan, penolakan Trump terhadap respons Iran membuat pelaku pasar tetap berhati-hati dan menopang pergerakan dolar AS.

Namun demikian, ia menilai penguatan dolar masih terbatas karena pasar belum menganggap perkembangan terbaru sebagai guncangan besar terhadap sentimen risiko global.

“Jika terjadi kegagalan diplomasi secara resmi atau eskalasi militer baru, reaksi pasar bisa menjadi lebih besar,” ujar Wong.

Fokus pasar berikutnya tertuju pada rilis data inflasi konsumen AS atau Consumer Price Index (CPI) yang dijadwalkan terbit pada Selasa waktu setempat.

Survei Reuters memperkirakan inflasi konsumen AS naik 0,6% pada April setelah melonjak 0,9% pada Maret.

Data tersebut diperkirakan memperkuat pandangan bahwa The Fed belum akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat.

Pelaku pasar kini bahkan mulai mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga tahun ini dibanding sebelum perang Iran pecah.

Strategis mata uang Commonwealth Bank of Australia Sarah Hammoud menilai, inflasi inti AS berpotensi lebih tinggi dari perkiraan akibat dampak kenaikan harga energi terhadap tarif penerbangan dan harga pangan.

“Jika inflasi inti AS lebih tinggi dari ekspektasi, maka suku bunga AS dan dolar berpotensi naik,” jelasnya.

Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun tercatat stabil di level 4,418% setelah naik 4,8 basis poin pada perdagangan sebelumnya.

Yen Jepang berada di level 157,30 per dolar AS, relatif stabil sambil menunggu komentar Scott Bessent terkait nilai tukar yen dan kebijakan moneter Jepang.

Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama mengatakan, Jepang dan AS kembali menegaskan kerja sama erat terkait stabilitas pasar valuta asing.

Di sisi lain, dolar Australia turun 0,14% menjadi US$ 0,724 menjelang pengumuman anggaran federal Australia, sedangkan dolar Selandia Baru melemah 0,07% menjadi US$ 0,5959.

Adapun Bitcoin turun 0,3% ke level US$ 81.551 pada awal perdagangan Asia.