PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Mantan perdana menteri Thailand, Thaksin Shinawatra, resmi dibebaskan bersyarat dari penjara pada Senin (11/5/2026) setelah menjalani hukuman terkait kasus penyalahgunaan kekuasaan dan konflik kepentingan.
Kepulangan politikus sekaligus taipan berusia 76 tahun itu disambut ratusan pendukung di depan Penjara Klong Prem, Bangkok. Mereka mengenakan atribut merah khas partainya dan meneriakkan dukungan kepada Thaksin.
Saat keluar dari penjara dengan rambut dipangkas pendek dan mengenakan kemeja putih longgar, Thaksin terlihat memeluk anggota keluarganya, termasuk putrinya, Paetongtarn Shinawatra.
Kepada wartawan, Thaksin mengaku lega setelah bebas dari penahanan. “Saya pergi untuk ‘berhibernasi’. Sekarang saya tidak ingat apa pun,” ujar Thaksin sambil tersenyum.
Kembali dari Pengasingan
Thaksin kembali ke Thailand pada 2023 setelah menjalani pengasingan selama 15 tahun di luar negeri. Ia pulang untuk menjalani hukuman delapan tahun penjara atas kasus konflik kepentingan dan penyalahgunaan kekuasaan saat menjabat perdana menteri periode 2001–2006.
Namun, tidak lama setelah tiba di Thailand, Thaksin dipindahkan ke rumah sakit dengan alasan gangguan jantung dan nyeri dada tanpa sempat menjalani malam di penjara. Hukuman tersebut kemudian dikurangi menjadi satu tahun oleh Raja Thailand.
Ia menghabiskan enam bulan di rumah sakit sebelum mendapatkan pembebasan bersyarat. Akan tetapi, Mahkamah Agung Thailand kemudian memutuskan bahwa masa rawat inap tersebut diperpanjang secara tidak wajar melalui prosedur medis yang dianggap tidak diperlukan, sehingga Thaksin diwajibkan kembali menjalani hukuman penjara.
Pengaruh Politik Mulai Melemah
Selama dua dekade terakhir, Thaksin dikenal sebagai sosok yang sangat dominan dalam politik Thailand. Ia menjadi kekuatan utama di balik pemerintahan populis yang dipimpin atau didukung keluarga Shinawatra.
Namun, pengaruh politiknya dinilai mulai melemah setelah putrinya, Paetongtarn, dilengserkan dari jabatan perdana menteri oleh pengadilan pada Agustus tahun lalu. Kejatuhan Paetongtarn menambah daftar panjang pemimpin yang terkait keluarga Shinawatra yang tersingkir akibat kudeta maupun keputusan pengadilan.
Di sisi lain, Partai Pheu Thai Party yang sebelumnya dominan juga mengalami hasil pemilu terburuk dalam sejarah pada awal tahun ini. Pemerintahan yang dipimpin partai tersebut runtuh dan digantikan koalisi baru di bawah kepemimpinan Anutin Charnvirakul.
Harus Lebih Hati-hati
Pengamat politik dari Ubon Ratchathani University, Titipol Phakdeewanich, menilai kebebasan Thaksin bisa membantu memulihkan kekuatan politik Pheu Thai. Namun, ia mengingatkan agar Thaksin tidak terlalu agresif kembali ke panggung politik.
“Namun dia harus melangkah dengan hati-hati,” kata Titipol.
“Dia sudah bermain terlalu jauh. Akan lebih baik jika dia tetap berada di balik layar,” tambahnya.
Meski telah bebas bersyarat, Thaksin tetap diwajibkan mengenakan alat pemantau elektronik di pergelangan kaki hingga masa hukumannya berakhir pada September mendatang.
Salah satu pendukungnya, Rommanee Nakano, mengatakan Thaksin seharusnya tidak pernah dipenjara. Menurutnya, mantan perdana menteri tersebut banyak membantu rakyat Thailand selama berkuasa.
“Dia adalah orang yang sangat baik. Apa pun yang dia lakukan, dia melakukannya untuk rakyat,” ujarnya di depan penjara.











