PRESSCORNER.ID – BEIJING. Krisis energi global akibat perang Iran justru membuka peluang besar bagi industri teknologi bersih China. Saat banyak negara bergulat dengan lonjakan harga minyak dan mahalnya impor bahan bakar, produsen kendaraan listrik, baterai, hingga panel surya asal Negeri Tirai Bambu bergerak cepat menawarkan solusi alternatif.
Bagi China, momentum ini datang di saat yang tepat. Permintaan domestik yang belum pulih penuh dan tekanan laba mendorong perusahaan-perusahaan manufaktur mencari pasar baru di luar negeri. Kini, gejolak harga energi dunia menjadi pintu masuk untuk memperluas ekspor.
Dalam laporan Bloomberg (11/5), salah satu contohnya datang dari Jinko Solar. Produsen panel surya besar itu meneken dua kesepakatan di Nigeria pada akhir April. Langkah ini sejalan dengan lonjakan harga diesel di negara tersebut yang naik sekitar 40% sejak konflik dimulai.
Melalui kerja sama dengan Fouani Nigeria, Jinko akan memasok peralatan tenaga surya berkapasitas 500 megawatt untuk pusat perbelanjaan, pabrik, hingga rumah tangga. Di negara dengan pasokan listrik yang kerap tidak stabil, energi surya menjadi pilihan yang semakin menarik.
Lembaga riset Ember mencatat ekspor baterai lithium-ion dan kendaraan listrik China melonjak pada Maret dibanding tahun sebelumnya. Sementara pengiriman panel surya naik dua kali lipat dibanding bulan sebelumnya dan menembus rekor tertinggi.
Sebanyak 50 negara mencatat impor panel surya China pada level tertinggi sepanjang masa. Nigeria memimpin dengan kenaikan 519% dibanding Februari. Lonjakan permintaan juga terlihat di Malaysia, Ethiopia, dan Kenya.
Peluang kendaraan listrik
Tak hanya sektor energi, industri otomotif listrik China juga ikut memetik keuntungan. Chery Automobile menilai Kanada sebagai pasar potensial baru karena terdampak kenaikan harga bahan bakar. Perusahaan itu bahkan mengundang puluhan dealer Kanada ke pameran otomotif Beijing awal bulan ini.
Ketua Chery Yin Tongyue mengatakan, persepsi konsumen terhadap kendaraan listrik berubah cepat setelah harga minyak melonjak. Menurut dia, pesanan meningkat dan sejumlah produsen Barat mulai aktif mencari kerja sama dengan perusahaan EV China.
Produsen lain juga bergerak agresif. Dongfeng Liuzhou Motor melihat peluang di Vietnam setelah pemerintah setempat mempercepat pembangunan infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik.
Data bea cukai China menunjukkan ekspor EV pada Maret tumbuh 53% secara tahunan. Impor kendaraan listrik China ke Australia naik 67% dibanding Februari, Belgia naik 63%, dan Jerman bertambah 34%.
Eksportir EV terbesar China, BYD, mencatat penjualan luar negeri melonjak lebih dari 71% dibanding tahun lalu.
Sektor baterai pun ikut terdorong. Bloomberg Intelligence memperkirakan, pengiriman dari Sungrow Power Supply berpotensi melampaui target seiring meningkatnya kebutuhan penyimpanan energi global. Gotion High-Tech bahkan menargetkan pengiriman luar negeri naik dua kali lipat tahun ini.
Meski begitu, risiko tetap ada. Gangguan perdagangan di Timur Tengah dan ketidakpastian geopolitik bisa menghambat sebagian jalur distribusi.











