PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Wall Street kembali mencetak rekor pada perdagangan Jumat (8/5/2026), didorong lonjakan saham teknologi dan data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat dari perkiraan.
Optimisme pasar membuat indeks S&P 500 dan Nasdaq menyentuh level tertinggi baru sepanjang masa.
Melansir Reuters, pada pukul 09.41 waktu New York, indeks Dow Jones menguat 0,22% ke 49.703,61. S&P 500 naik 0,46% ke 7.371,21, sedangkan Nasdaq melonjak 0,76% ke 26.001,69.
Saham-saham teknologi menjadi motor utama penguatan. Nvidia dan Apple masing-masing naik lebih dari 2%, sementara indeks saham semikonduktor rebound dari pelemahan sehari sebelumnya dan mencetak rekor baru di tengah ekspektasi permintaan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang masih kuat.
Sentimen positif juga datang dari data tenaga kerja AS. Pertumbuhan lapangan kerja pada April tercatat melampaui ekspektasi pasar, sementara tingkat pengangguran bertahan di level 4,3%. Kondisi ini dinilai menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih solid dan menopang daya beli konsumen.
“Ini menegaskan bahwa pasar tenaga kerja tetap kuat dan memberi kepercayaan bagi konsumen untuk mempertahankan pola belanja mereka,” ujar Kepala Strategi Investasi CFRA Research, Sam Stovall.
Data tersebut sekaligus memperkuat keyakinan investor bahwa bank sentral AS atau The Fed belum akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat. Pelaku pasar masih memperkirakan suku bunga acuan bertahan di kisaran 3,50%-3,75% hingga akhir tahun.
Jika tren ini bertahan hingga penutupan, S&P 500 dan Nasdaq akan mencatat penguatan selama enam pekan berturut-turut, menjadi reli mingguan terpanjang sejak Oktober 2024. Sementara Dow Jones berpotensi mengakhiri pekan dengan kenaikan dua minggu beruntun.
Optimisme pasar juga membuat investor mengabaikan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Harga minyak sempat menembus US$ 100 per barel sebelum kembali melemah tipis, setelah harapan penyelesaian konflik dan pembukaan kembali Selat Hormuz mulai memudar.
Meski kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi, pasar saham AS tetap ditopang musim laporan keuangan yang solid. Dari 440 emiten anggota S&P 500 yang telah merilis kinerja kuartal I-2026, sekitar 83% berhasil melampaui ekspektasi laba analis. Angka itu jauh di atas rata-rata historis sekitar 67%.
Namun tidak semua emiten bergerak positif. Saham Cloudflare anjlok 18,6% setelah perusahaan layanan cloud tersebut mengumumkan pemangkasan sekitar 20% tenaga kerja dan memproyeksikan pendapatan kuartal II di bawah ekspektasi pasar.
Saham Trade Desk turun 5,3% akibat proyeksi pendapatan yang mengecewakan, sementara CoreWeave melemah 9% setelah menaikkan proyeksi belanja modal tahunan karena kenaikan biaya komponen.
Di sektor pariwisata, saham Expedia terkoreksi 8,7% setelah perusahaan menyebut konflik Timur Tengah mulai menekan permintaan perjalanan.
Secara keseluruhan, saham yang menguat masih mendominasi perdagangan. Di Bursa New York (NYSE), jumlah saham naik mengungguli saham turun dengan rasio 1,41 banding 1. Sementara di Nasdaq, rasionya mencapai 1,08 banding 1.











