PRESSCORNER.ID – KUALA LUMPUR. Kepercayaan investor global terhadap Malaysia kian menguat. Di tengah gejolak pasar dunia akibat konflik Timur Tengah dan ketidakpastian ekonomi global, bank sentral asing serta pemerintah berbagai negara justru menambah kepemilikan obligasi pemerintah Malaysia ke level tertinggi dalam satu dekade terakhir.
Bloomberg (8/5) melaporkan, data Bank Negara Malaysia (BNM) menunjukkan porsi kepemilikan investor institusi asing di surat utang pemerintah Malaysia mencapai 36% per Maret 2026. Angka ini melonjak dari 29,4% pada periode yang sama tahun lalu dan menjadi level tertinggi sejak data tersebut dicatat pada 2015.
Lonjakan minat ini menandakan Malaysia semakin dipandang sebagai tempat berlindung yang relatif aman di tengah pasar global yang berfluktuasi.
Sepanjang setahun terakhir, obligasi pemerintah Malaysia mencatat imbal hasil hampir 12% bagi investor berbasis dolar Amerika Serikat (AS). Kinerja tersebut menjadi yang terbaik di antara negara berkembang Asia lainnya.
Penguatan ringgit menjadi salah satu faktor utama. Sejak awal 2025, mata uang Malaysia itu telah menguat lebih dari 14% terhadap dolar AS, menjadikannya mata uang berkinerja terbaik di Asia.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi yang stabil serta posisi Malaysia sebagai eksportir energi bersih ikut menopang daya tarik aset negara tersebut. Saat banyak negara pengimpor energi terpukul lonjakan harga minyak akibat konflik Iran, Malaysia justru diuntungkan.
“Obligasi pemerintah Malaysia menawarkan salah satu imbal hasil tertinggi di antara negara emerging market Asia dengan surplus transaksi berjalan, serta likuiditas pasar yang cukup baik,” ujar Head of Fixed Income Research Maybank Securities Winson Phoon, dikutip Bloomberg.
Menurut dia, Malaysia juga menjadi penerima manfaat dari langkah sejumlah bank sentral kawasan yang mulai mendiversifikasi cadangan devisa mereka dari dolar AS.
Stabilitas pasar obligasi Malaysia pun menonjol. Yield obligasi tenor 10 tahun Malaysia hanya bergerak dalam rentang 15 basis poin sejak konflik Iran pecah. Sebagai perbandingan, yield obligasi Indonesia, India, Filipina, Thailand, dan Korea Selatan berfluktuasi rata-rata 73 basis poin dalam periode sama.
Meski demikian, risiko belum sepenuhnya hilang. Konflik Timur Tengah yang berkepanjangan dapat mendorong inflasi dan meningkatkan beban subsidi energi pemerintah Malaysia.
Pada April lalu, Malaysia diperkirakan menghabiskan US$ 1,8 miliar untuk subsidi bahan bakar, sekitar 10 kali lipat dibanding sebelum perang. Inflasi juga naik menjadi 1,7% pada Maret, tertinggi dalam lebih dari setahun.
BNM sendiri mempertahankan suku bunga acuan di level 2,75% pekan ini, namun mengingatkan ketidakpastian global masih akan memengaruhi prospek pertumbuhan dan inflasi.
Di sisi lain, aliran dana asing masih terus masuk. Investor global mencatat pembelian bersih obligasi Malaysia sebesar US$ 947 juta pada April, menandai dua bulan berturut-turut terjadi arus masuk modal.
Artinya, di tengah dunia yang penuh tekanan, Malaysia sedang menikmati posisi langka: stabil, diuntungkan harga energi, dan dipercaya investor global.











