BeritaInternasional

Ekonomi Filipina Tumbuh 2,8% di Kuartal I-2026, Meleset dari Ekspektasi

Avatar photo
9
×

Ekonomi Filipina Tumbuh 2,8% di Kuartal I-2026, Meleset dari Ekspektasi

Sebarkan artikel ini
Ekonomi Filipina Tumbuh 2,8% di Kuartal I-2026, Meleset dari Ekspektasi


PRESSCORNER.ID – Ekonomi Filipina tumbuh lebih rendah dari perkiraan pada kuartal I-2026 di tengah tekanan konflik Timur Tengah dan keterlambatan pengesahan anggaran pemerintah.

Melansir Reuters berdasarkan data badan statistik Filipina yang dirilis Kamis (7/5/2026), produk domestik bruto (PDB) Filipina tumbuh 2,8% secara tahunan (year on year/YoY) pada periode Januari-Maret 2026.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan proyeksi ekonom dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan pertumbuhan sebesar 3,5%.

Menteri Perencanaan Ekonomi Filipina Arsenio Balisacan mengatakan, dampak kenaikan harga minyak dan gangguan rantai pasok akibat konflik Timur Tengah masih akan berlanjut dalam beberapa bulan ke depan.

“Efek lanjutan dari harga minyak dan dampaknya terhadap rantai pasok masih akan berlanjut dalam beberapa bulan mendatang. Tantangan ke depan masih besar,” ujar Balisacan dalam konferensi pers.

Secara kuartalan yang telah disesuaikan secara musiman, ekonomi Filipina tumbuh 0,9% dibanding kuartal sebelumnya (quarter to quarter/QtQ). Capaian ini juga lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 1,5%.

Menurut Balisacan, perlambatan ekonomi mencerminkan kombinasi tantangan domestik dan global, termasuk keterlambatan pengesahan serta pencairan anggaran 2026, ditambah tekanan kenaikan harga terhadap konsumsi domestik.

Pemerintah Filipina, lanjutnya, akan berupaya memulihkan momentum pertumbuhan melalui percepatan belanja negara, termasuk pembangunan infrastruktur.

Namun, target pertumbuhan ekonomi tahun ini kemungkinan akan direvisi turun akibat tingginya ketidakpastian global.

Di sisi lain, inflasi Filipina terus meningkat. Data yang dirilis awal pekan ini menunjukkan inflasi tahunan April 2026 mencapai 7,2%, tertinggi sejak Maret 2023.

Lonjakan inflasi dipicu kenaikan biaya energi akibat konflik Timur Tengah dan berada di atas kisaran proyeksi bank sentral Filipina sebesar 5,6%–6,4%.

Kondisi tersebut meningkatkan ekspektasi pasar bahwa bank sentral Filipina berpotensi kembali memperketat kebijakan moneternya dalam waktu dekat.