BeritaInternasional

Bursa Global Bergerak Mixed, Harga Minyak Turun di Tengah Harapan Damai AS-Iran

Avatar photo
9
×

Bursa Global Bergerak Mixed, Harga Minyak Turun di Tengah Harapan Damai AS-Iran

Sebarkan artikel ini
Bursa Global Bergerak Mixed, Harga Minyak Turun di Tengah Harapan Damai AS-Iran


PRESSCORNER.ID – LONDON. Pergerakan pasar saham global cenderung bervariasi pada perdagangan Kamis (7/5), sementara harga minyak dunia melemah tajam seiring meningkatnya optimisme terhadap potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Meski demikian, masa depan keamanan di Selat Hormuz masih menjadi perhatian pasar.

Indeks saham global MSCI All-Country World Index tercatat naik 0,17% dan bergerak di dekat level tertinggi sepanjang masa. Di Eropa, indeks STOXX 600 turun 0,25% setelah sebelumnya melonjak 2,2% pada perdagangan Rabu.

Sementara itu, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 1,7% dan menyentuh rekor tertinggi baru. Di Jepang, indeks Nikkei bahkan menembus level 62.000 untuk pertama kalinya setelah pasar kembali dibuka usai libur panjang.

Kepala ekonom Lombard Odier, Samy Chaar, mengatakan arah sentimen pasar mulai bergerak positif meskipun situasi di Timur Tengah masih belum sepenuhnya pasti.

“Jadi harga minyak sudah turun dari level tertingginya, yang jelas mengurangi tekanan pada kurva imbal hasil dan yield obligasi. Hal itu menjadi kabar baik bagi valuasi saham serta turut memengaruhi pergerakan mata uang,” ujar Chaar.

Menurutnya, penurunan harga minyak membantu meredakan tekanan pada pasar obligasi dan mendukung valuasi saham global. Selain itu, musim laporan keuangan perusahaan yang solid serta kondisi makroekonomi yang relatif kuat turut menopang optimisme investor.

AS dan Iran Dekati Kesepakatan Sementara

Sumber dan pejabat terkait menyebutkan bahwa Amerika Serikat dan Iran semakin dekat menuju kesepakatan terbatas dan sementara guna menghentikan konflik yang berlangsung. Namun, sejumlah isu utama dilaporkan masih belum terselesaikan.

Presiden AS Donald Trump juga memprediksi perang dapat segera berakhir, meskipun detail final kesepakatan masih dalam pembahasan.

Di pasar energi, harga minyak Brent turun hampir 3% menjadi US$ 98,3 per barel setelah sebelumnya anjlok hampir 8% pada perdagangan Rabu.

Meski mengalami koreksi tajam, harga Brent masih sekitar 40% lebih tinggi dibanding level akhir Februari ketika konflik mulai memanas. Kenaikan biaya energi tersebut sebelumnya sempat memberikan tekanan besar terhadap ekonomi global dan pasar keuangan.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 2,2 basis poin menjadi 4,334% pada perdagangan Kamis.

Chief Market Strategist ATFX Global, Nick Twidale, mengatakan pasar masih mempertimbangkan risiko implementasi dari kesepakatan tersebut.

Menurutnya, investor mempertanyakan apakah kesepakatan benar-benar akan disahkan dan seberapa cepat distribusi energi global dapat kembali normal apabila konflik mereda.

Reli Pasar Ditopang Saham Teknologi

Lonjakan harga minyak pada Maret sempat menekan pasar global. Namun, harapan gencatan senjata dan peluang tercapainya kesepakatan damai mendorong reli aset berisiko sejak April, terutama didukung oleh kuatnya kinerja emiten teknologi.

Perusahaan-perusahaan dalam indeks S&P 500 diperkirakan mencatat pertumbuhan laba terkuat dalam lebih dari empat tahun terakhir.

Di Asia, hasil keuangan yang kuat dari Samsung Electronics, SK Hynix, dan TSMC turut memperkuat sentimen positif pasar.

Investor kini menantikan laporan ketenagakerjaan nonfarm payrolls Amerika Serikat yang akan dirilis Jumat. Berdasarkan survei Reuters terhadap para ekonom, jumlah pekerjaan di AS diperkirakan bertambah 62.000 pada April setelah meningkat 178.000 pada Maret.

Pergerakan Mata Uang Jadi Sorotan

Di pasar valuta asing, euro naik tipis ke level US$ 1,1764, sedangkan pound sterling menguat ke US$ 1,3611 menjelang pemilihan lokal di Inggris.

Indeks dolar AS melemah tipis ke posisi 97,901.

Sementara itu, yen Jepang tetap menjadi perhatian setelah penguatannya dalam beberapa sesi terakhir memicu spekulasi intervensi pemerintah Jepang di pasar valuta asing.

Yen diperdagangkan di level 156,35 per dolar AS setelah sempat menyentuh level tertinggi 10 minggu di 155 pada perdagangan sebelumnya.

Analis OCBC menilai intervensi saja kemungkinan tidak cukup mengubah tren pelemahan yen tanpa dukungan kebijakan lebih kuat dari Bank of Japan atau penurunan harga minyak dan imbal hasil obligasi AS.

Diplomat mata uang utama Jepang, Atsushi Mimura, menegaskan Jepang tidak memiliki batasan dalam melakukan intervensi untuk mendukung mata uangnya dan terus berkomunikasi dengan otoritas AS setiap hari.