BeritaInternasional

Dolar AS Stabil Selasa (5/5), Pasar Waspadai Eskalasi Konflik Timur Tengah

Avatar photo
4
×

Dolar AS Stabil Selasa (5/5), Pasar Waspadai Eskalasi Konflik Timur Tengah

Sebarkan artikel ini
Dolar AS Stabil Selasa (5/5), Pasar Waspadai Eskalasi Konflik Timur Tengah


PRESSCORNER.ID – Pergerakan dolar Amerika Serikat (AS) cenderung stabil pada perdagangan Selasa (5/5/2026), seiring pelaku pasar mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah yang masih penuh ketidakpastian.

Gencatan senjata di kawasan tersebut kembali diragukan setelah AS dan Iran dilaporkan melancarkan serangan baru dalam perebutan kendali atas Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi global.

Melansir Reuters mengacu data pasar, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama tercatat stagnan di level 98,44, setelah sempat naik 0,3% pada perdagangan sebelumnya.

Sementara itu, euro diperdagangkan di level US$ 1,1691 dan pound sterling berada di posisi US$ 1,3538.

Head of FX Strategy Rabobank Jane Foley mengatakan, pelaku pasar saat ini cenderung mengambil posisi wait and see karena arus informasi terkait konflik dapat berubah dengan cepat.

“Pasar berada dalam pola konsolidasi karena arah pergerakan sangat bergantung pada perkembangan terbaru,” ujarnya.

Di kawasan Asia-Pasifik, dolar Australia melemah 0,18% ke level US$ 0,7154 meski bank sentral kembali menaikkan suku bunga untuk ketiga kalinya secara beruntun guna meredam inflasi.

Kebijakan tersebut dinilai hawkish, namun tetap menyisakan ketidakpastian terkait arah kenaikan suku bunga selanjutnya, di tengah tekanan perlambatan ekonomi akibat lonjakan harga energi global.

Sementara itu, yen Jepang bergerak di kisaran 157,19 per dolar AS, tidak jauh dari level terkuat dalam dua bulan terakhir. Pergerakan yen masih dipengaruhi dugaan intervensi otoritas Jepang di pasar valuta asing.

Data menunjukkan Jepang diperkirakan telah menggelontorkan sekitar US$ 35 miliar untuk menopang mata uangnya.

Namun, analis menilai langkah tersebut belum cukup untuk mengubah tren pelemahan yen dalam jangka panjang.

Tekanan terhadap yen masih berasal dari perbedaan suku bunga yang lebar dengan negara maju lain, serta dampak kenaikan harga energi akibat konflik geopolitik.

Analis menilai, pergerakan pasangan USD/JPY berpotensi tetap volatil dalam kisaran 155–160 dalam jangka pendek, dengan level 160 menjadi batas sensitif secara politik bagi otoritas Jepang.

Selain itu, arah pergerakan yen juga sangat bergantung pada dinamika harga minyak global. Jika harga energi terus meningkat, tekanan terhadap yen diperkirakan kembali menguat.