BeritaInternasional

Laba HSBC Tertekan Kerugian Penipuan dan Private Credit

Avatar photo
8
×

Laba HSBC Tertekan Kerugian Penipuan dan Private Credit

Sebarkan artikel ini
Laba HSBC Tertekan Kerugian Penipuan dan Private Credit


PRESSCORNER.ID – LONDON. HSBC Holdings mencatat kinerja kuartal I 2026 yang kurang menggembirakan setelah terbebani kerugian tak terduga senilai US$ 400 juta akibat kasus penipuan di Inggris. Tekanan ini membuat laba bank terbesar di Eropa tersebut sedikit di bawah ekspektasi analis.

Mengutip Reuters (5/5), HSBC membukukan laba sebelum pajak sebesar US$ 9,4 miliar pada periode Januari-Maret 2026. Angka ini turun tipis dari US$ 9,5 miliar pada periode sama tahun lalu dan berada di bawah rata-rata proyeksi analis sebesar US$ 9,59 miliar.

Pasar merespons negatif laporan tersebut. Saham HSBC yang diperdagangkan di Bursa Hong Kong turun 4%, lebih dalam dibanding pelemahan indeks Hang Seng yang turun 1,2%.

HSBC menyebut lonjakan kerugian kredit ekspektasian (expected credit loss) menjadi penyebab utama tekanan laba. Pos ini naik US$ 400 juta menjadi US$ 1,3 miliar.

Kenaikan beban tersebut berasal dari eksposur penipuan di unit investment banking Inggris, serta dampak konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memperburuk prospek ekonomi global.

HSBC juga merevisi proyeksi beban kredit tahun 2026 menjadi 45 basis poin dari rata-rata pinjaman bruto, naik dari proyeksi sebelumnya 40 basis poin. Manajemen menilai ketidakpastian ekonomi masih cukup tinggi.

Bank ini menjelaskan kerugian di Inggris berasal dari pembiayaan sekuritisasi sekunder yang terkait penipuan dengan sponsor keuangan di negara tersebut. Namun, HSBC tidak mengungkap identitas pihak yang terlibat.

Secara keseluruhan, HSBC memiliki eksposur sekitar US$ 3 miliar pada pembiayaan sekuritisasi yang didukung portofolio piutang seperti kredit perumahan, pinjaman konsumen, dan kredit kendaraan.

Tekanan ini menambah kekhawatiran pasar terhadap industri private credit global yang bernilai sekitar US$ 3,5 triliun. Dalam beberapa tahun terakhir, sektor ini tumbuh pesat seiring meningkatnya minat investor institusi dan individu kaya terhadap instrumen pinjaman berimbal hasil tinggi.

HSBC sendiri memiliki eksposur US$ 111 miliar pada pasar privat, dengan sekitar US$ 22 miliar di antaranya terkait private credit.

Kinerja HSBC juga tertinggal dibanding pesaing Eropa lainnya. Deutsche Bank pekan lalu melaporkan laba kuartal pertama tertinggi, sementara UBS melampaui perkiraan berkat kuatnya bisnis perdagangan.

Di sisi lain, HSBC dan Standard Chartered juga dinilai menjadi dua bank global yang paling rentan terhadap dampak konflik Timur Tengah karena agresif membiayai arus perdagangan antara kawasan tersebut dengan Asia.

Pekan lalu, Standard Chartered mencatat beban kredit US$ 190 juta akibat langkah antisipatif terhadap konflik tersebut. Sementara Lloyds Banking Group membukukan provisi US$ 204 juta dan Deutsche Bank sebesar US$ 90 juta.