PRESSCORNER.ID – SYDNEY. Kenaikan suku bunga bank sentral Australia berpotensi menambah tekanan bagi ekonomi Negeri Kanguru yang tengah dibayangi perlambatan pertumbuhan. Reserve Bank of Australia (RBA) pada Selasa (5/5) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,35%, atau kenaikan ketiga sepanjang tahun ini.
Langkah agresif tersebut diambil saat kepercayaan bisnis dan konsumen di Australia justru melemah akibat konflik Timur Tengah, lonjakan harga minyak, serta kekhawatiran resesi global.
Dalam laporan Reuters (5/5), RBA menyebut inflasi masih terlalu tinggi dan berisiko bertahan di atas target 2%–3% untuk waktu yang lebih lama. Kenaikan harga bahan bakar dinilai mulai menular ke harga barang dan jasa lain, sehingga mendorong bank sentral kembali mengetatkan kebijakan moneternya.
Namun, kebijakan ini berisiko memperdalam tekanan pada sektor rumah tangga dan properti. Biaya pinjaman yang lebih mahal dapat menahan belanja konsumen, memperlambat investasi, dan menekan pasar perumahan yang mulai kehilangan momentum.
Sepanjang tahun lalu, RBA sempat memangkas bunga tiga kali hingga 3,6% demi menopang pertumbuhan ekonomi. Namun kebijakan itu berbalik arah setelah inflasi kembali memanas pada paruh kedua tahun lalu.
Kepala Riset Ekonomi Oxford Economics Australia Harry Murphy Cruise menilai RBA tidak punya banyak pilihan di tengah tekanan inflasi domestik dan global yang terjadi bersamaan.
Meski demikian, arah kebijakan selanjutnya masih sangat bergantung pada perkembangan konflik di Timur Tengah, terutama gangguan di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia. Jika harga energi terus melonjak, peluang kenaikan bunga lanjutan masih terbuka.
Pasar saat ini memperkirakan suku bunga Australia bisa naik lagi menjadi 4,60% pada September, level tertinggi sejak 2011.
Di tengah berbagai tekanan itu, pasar tenaga kerja masih menjadi penopang utama ekonomi Australia. Tingkat pengangguran bertahan rendah di 4,3%, meski tantangan ke depan diperkirakan semakin berat.











