BeritaInternasional

AS Mengevakuasi 22 Awak Kapal Iran yang Disita ke Pakistan

Avatar photo
6
×

AS Mengevakuasi 22 Awak Kapal Iran yang Disita ke Pakistan

Sebarkan artikel ini
AS Mengevakuasi 22 Awak Kapal Iran yang Disita ke Pakistan


PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengevakuasi 22 awak kapal yang sebelumnya ditahan di atas kapal kontainer berbendera Iran ke Pakistan.

Kementerian Luar Negeri Pakistan menyatakan para awak tersebut akan diserahkan kembali kepada otoritas Iran pada Senin sebagai bagian dari langkah membangun kepercayaan (confidence-building measure).

Kapal berbendera Iran bernama Touska, yang merupakan bagian dari Islamic Republic of Iran Shipping Lines, sebelumnya disita oleh AS di lepas pantai pelabuhan Chabahar, Iran, di kawasan Teluk Oman pada bulan lalu. IRISL sendiri diketahui telah menjadi target sanksi Washington.

Menurut United States Central Command, penyitaan dilakukan setelah awak kapal tidak mematuhi peringatan berulang selama enam jam. AS menilai kapal tersebut melanggar blokade yang diberlakukan oleh Washington.

Di sisi lain, Iran mengecam tindakan tersebut sebagai “tidak sah” dan merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional. Teheran juga menuntut pembebasan segera kapal, para awak, serta keluarga mereka.

Kementerian Luar Negeri Pakistan menyebutkan bahwa kapal tersebut juga akan dipindahkan ke perairan teritorial Pakistan setelah menjalani perbaikan yang diperlukan, sebelum akhirnya dikembalikan kepada pemiliknya.

Insiden ini terjadi di tengah dinamika konflik antara AS dan Iran yang belum sepenuhnya mereda. Perang antara AS dan Israel melawan Iran yang dimulai pada Februari lalu sempat dihentikan melalui gencatan senjata rapuh sekitar empat minggu lalu. Namun, ketegangan tetap berlanjut melalui konfrontasi angkatan laut dan aksi saling penyitaan kapal komersial.

Upaya diplomasi juga telah dilakukan, termasuk pembicaraan damai yang berlangsung di Islamabad bulan lalu. Pakistan berperan sebagai mediator dalam negosiasi tersebut, meski hingga kini belum menghasilkan kesepakatan final.