PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Bank sentral Malaysia, Bank Negara Malaysia (BNM), diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan tetap stabil di level 2,75% pada pertemuan kebijakan pekan ini dan sepanjang sisa tahun 2026.
Proyeksi ini didasarkan pada inflasi yang masih terkendali serta pertumbuhan ekonomi yang stabil, meskipun terjadi guncangan harga energi akibat konflik di Timur Tengah.
Berdasarkan hasil jajak pendapat Reuters terhadap para ekonom, seluruh 28 responden memperkirakan BNM akan menahan overnight policy rate di level 2,75% pada 7 Mei mendatang. Jika terealisasi, ini akan menjadi kali kelima berturut-turut suku bunga dipertahankan sejak terakhir diturunkan pada Juli 2025.
Secara fundamental, kondisi ekonomi Malaysia dinilai masih cukup solid. Inflasi tahunan pada Maret tercatat naik tipis menjadi 1,7%, namun tetap berada dalam kisaran target BNM sebesar 1,5% hingga 2,5%. Di sisi lain, estimasi awal menunjukkan ekonomi Malaysia tumbuh sebesar 5,3% pada kuartal I-2026.
Kombinasi inflasi rendah dan pertumbuhan yang relatif kuat memberikan ruang bagi otoritas moneter untuk mencermati dampak lonjakan harga energi global sebelum mengambil langkah kebijakan lebih lanjut.
“Kami meragukan BNM akan terburu-buru menyesuaikan kebijakan moneter tahun ini,” ujar Gareth Leather, ekonom senior pasar negara berkembang di Capital Economics.
Menurutnya, inflasi yang masih rendah kemungkinan besar belum akan menjadi perhatian utama bagi bank sentral. Selain itu, prospek pertumbuhan ekonomi Malaysia juga dinilai tetap terjaga dengan baik.
Malaysia juga berada pada posisi yang relatif lebih aman dibandingkan beberapa negara lain di kawasan. Sebagai importir energi bersih dalam skala kecil, dampak lonjakan harga energi terhadap neraca perdagangannya diperkirakan tidak sebesar yang dialami negara seperti Filipina dan Thailand.
Ke depan, mayoritas ekonom masih memperkirakan tidak ada perubahan suku bunga hingga akhir tahun. Sebanyak 20 dari 22 ekonom yang disurvei memperkirakan suku bunga tetap di 2,75%, sementara hanya dua responden yang memproyeksikan kenaikan sebesar 25 basis poin dalam kuartal mendatang.
Proyeksi tersebut juga sejalan dengan outlook ekonomi yang relatif stabil sejak awal tahun. Pertumbuhan ekonomi Malaysia diperkirakan mencapai 4,5% pada 2026, tidak berubah dari survei sebelumnya pada Januari. Sementara itu, inflasi diproyeksikan rata-rata sebesar 2,0%, sedikit lebih tinggi dibandingkan estimasi sebelumnya sebesar 1,8%.
Meski demikian, sejumlah ekonom mulai mengingatkan adanya potensi tekanan inflasi ke depan, terutama jika kenaikan harga energi mulai merembet ke sektor lain.
“Tekanan dari sisi biaya mulai meningkat, dan meskipun BNM dapat menahan suku bunga untuk saat ini, arah kebijakan bisa menjadi lebih ketat jika kenaikan harga energi meluas ke kategori inti dan inflasi menjadi lebih persisten,” ujar Krystal Tan, ekonom dari ANZ.











