PRESSCORNER.ID – SAMARKAND. Para pemimpin keuangan dari kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara yang tergabung dalam ASEAN+3 menegaskan kewaspadaan mereka terhadap meningkatnya risiko gejolak di pasar keuangan global. Mereka juga menyatakan kesiapan untuk mengambil langkah responsif jika diperlukan guna menjaga stabilitas ekonomi.
Kelompok yang terdiri dari 10 negara ASEAN serta China, Jepang, dan Korea Selatan itu menyampaikan pernyataan bersama usai pertemuan di Samarkand, di sela-sela agenda tahunan Bank Pembangunan Asia alias Asian Development Bank (ADB).
Dalam pernyataan tersebut, para menteri keuangan dan gubernur bank sentral ASEAN+3 menekankan komitmen mereka untuk terus memperkuat dialog kebijakan demi menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan di kawasan.
“Kami menegaskan kembali komitmen untuk menjaga dialog kebijakan yang berkelanjutan guna melindungi stabilitas makroekonomi dan keuangan,” demikian isi pernyataan bersama tersebut.
Mereka juga menyoroti perlunya kewaspadaan terhadap risiko yang muncul akibat volatilitas berlebihan di pasar keuangan global, pergerakan pasar yang tidak tertib, serta perubahan kondisi likuiditas dunia. Meski demikian, mereka menegaskan kesiapan untuk merespons sesuai kondisi masing-masing negara.
Selain isu stabilitas keuangan, ASEAN+3 juga menekankan pentingnya menjaga arus perdagangan dan investasi yang terbuka serta rantai pasok yang tangguh. Mereka kembali menyatakan dukungan terhadap sistem perdagangan multilateral yang berbasis aturan, non-diskriminatif, terbuka, adil, inklusif, dan transparan, dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) sebagai pusatnya.
ASEAN sendiri terdiri dari Brunei, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Sementara itu, kerja sama ASEAN+3 melibatkan tambahan tiga negara mitra utama: China, Jepang, dan Korea Selatan.
Pertemuan ini menjadi sinyal kuat bahwa kawasan Asia berupaya memperkuat koordinasi di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi.











