Internasional

Mata Uang Asia Tertekan Jumat (24/4) Pagi, Peso Filipina Melemah Paling Dalam

Avatar photo
10
×

Mata Uang Asia Tertekan Jumat (24/4) Pagi, Peso Filipina Melemah Paling Dalam

Sebarkan artikel ini
Mata Uang Asia Tertekan Jumat (24/4) Pagi, Peso Filipina Melemah Paling Dalam


PRESSCORNER.ID – Mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (24/4/2026), dengan peso Filipina mencatatkan penurunan paling dalam di kawasan.

Melansir Reuters berdasarkan data pasar pada pukul 02.13 GMT, peso Filipina berada di level 60,699 per dolar AS, melemah 0,43% dibandingkan posisi sebelumnya di 60,436. Pelemahan ini menjadi yang terbesar di antara mata uang utama Asia pada hari tersebut.

Di sisi lain, rupiah Indonesia relatif stabil. Rupiah tercatat di level 17.277 per dolar AS, sedikit menguat 0,02% dibandingkan posisi sebelumnya di 17.280.

Sementara itu, yen Jepang berada di posisi 159,75 per dolar AS atau melemah tipis 0,03%. Won Korea Selatan juga turun 0,13% ke level 1.481,6 per dolar AS.

Mata uang Asia lainnya juga mengalami tekanan. Baht Thailand turun 0,02% ke 32,445 per dolar AS, sedangkan ringgit Malaysia melemah 0,23% ke level 3,969 per dolar AS. Yuan China juga turun tipis 0,04% ke posisi 6,836 per dolar AS.

Adapun dolar Singapura menjadi salah satu yang relatif stabil dengan kenaikan tipis 0,01% ke level 1,278 per dolar AS. Dolar Taiwan juga menguat 0,19% ke posisi 31,516.

Secara tahun berjalan (year-to-date), sebagian besar mata uang Asia masih berada dalam tren pelemahan terhadap dolar AS.

Rupee India mencatat penurunan terdalam, yakni sekitar 4,50%, diikuti rupiah Indonesia yang melemah sekitar 3,51%.

Peso Filipina juga telah turun sekitar 3,13% sepanjang tahun ini, sementara baht Thailand melemah 3,07% dan won Korea Selatan turun 2,84%.

Di tengah tekanan tersebut, hanya beberapa mata uang yang mencatatkan penguatan terhadap dolar AS sepanjang 2026, seperti yuan China yang menguat 2,23% dan ringgit Malaysia yang naik 2,19%.

Pergerakan ini mencerminkan masih kuatnya tekanan dolar AS di tengah ketidakpastian global, termasuk tensi geopolitik dan dinamika kebijakan moneter global.