PRESSCORNER.ID – Saham-saham teknologi di Asia, khususnya yang terkait kecerdasan buatan (AI), mencatat penguatan pada Kamis (30/4/2026) seiring rangkaian laporan keuangan yang umumnya positif.
Di sisi lain, lonjakan harga minyak memberikan tekanan pada pasar obligasi global, seiring sikap bank sentral yang semakin hawkish terhadap inflasi dan suku bunga.
Pelaku pasar mencermati potensi sikap tegas dari bank sentral utama, termasuk Bank Sentral Eropa dan Bank of England, yang diperkirakan akan memberi sinyal suku bunga tetap tinggi.
Kekhawatiran ini muncul setelah tiga anggota Federal Reserve memilih untuk menghapus bias pelonggaran kebijakan, menghasilkan keputusan paling terpecah sejak 1992.
Ketua The Fed yang akan segera lengser, Jerome Powell, juga mengonfirmasi tetap menjabat sebagai gubernur untuk sementara waktu guna menjaga independensi lembaga.
Sementara itu, Kevin Warsh yang dipilih Presiden AS Donald Trump yang menginginkan suku bunga lebih rendah sedang dalam proses konfirmasi sebagai penggantinya.
Pasar pun dengan cepat mengoreksi ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini. Bahkan, peluang kenaikan suku bunga pada musim semi tahun depan kini dinilai seimbang.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) naik ke level tertinggi dalam satu bulan, diikuti penguatan dolar AS yang menembus level 160 yen.
Lonjakan harga minyak turut menjadi perhatian utama. Harga minyak Brent melonjak 6% dalam semalam ke level tertinggi empat tahun di US$122,53 per barel, dipicu kekhawatiran bahwa Selat Hormuz belum akan dibuka kembali dalam waktu dekat.
Ekonom Senior Interactive Brokers Jose Torres menilai, risiko makroekonomi saat ini cukup besar.
Namun, optimisme terhadap prospek AI diharapkan dapat menopang pasar saham di tengah pelemahan siklus ekonomi.
“Selama kinerja laba, belanja modal, dan prospek bisnis tetap kuat, investor kemungkinan masih bertahan meski ada ancaman perlambatan ekonomi, biaya pinjaman yang lebih tinggi, dan pelebaran spread kredit,” ujarnya.
Di Asia, kontrak berjangka Nasdaq menguat 1% setelah kinerja induk Google, Alphabet, melampaui ekspektasi dan mendorong sahamnya naik 7% di perdagangan lanjutan. Kinerja Microsoft dan Amazon juga solid, memicu harapan terhadap hasil Apple yang akan dirilis kemudian.
Namun, Meta Platforms mengecewakan pasar setelah menaikkan proyeksi belanja modal tahunan untuk investasi besar di infrastruktur AI, yang membuat sahamnya turun 7%.
Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang bergerak datar pada Kamis, namun masih mencatat kenaikan signifikan sekitar 16% sepanjang April. Indeks Nikkei Jepang turun 1%, meski tetap menguat sekitar 16% secara bulanan.
Indeks KOSPI Korea Selatan sempat mencetak rekor tertinggi baru setelah Samsung Electronics melaporkan lonjakan laba operasional hingga delapan kali lipat berkat tingginya permintaan AI, sebelum mengalami aksi ambil untung.
Sementara itu, saham blue chip China naik tipis 0,2% dan indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,3%.
Obligasi Terpukul
Pasar obligasi global terpukul akibat lonjakan harga minyak dan sikap hawkish The Fed yang memicu aksi jual besar pada US Treasury.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor acuan naik ke 4,4237%, setelah sempat melonjak ke 4,434% tertinggi sejak akhir Maret.
Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun naik ke 2,500%, level tertinggi sejak Juni 1997. Sementara itu, imbal hasil obligasi Australia tenor 10 tahun melonjak ke 5,066%.
Penguatan imbal hasil turut mendorong dolar AS menguat luas, bertahan di dekat level tertinggi dalam lebih dari dua pekan.
Yen Jepang melemah ke 160,26 per dolar, mendekati level yang sebelumnya memicu intervensi pemerintah.
Sejak konflik pecah pada 28 Februari, yen telah melemah lebih dari 2%. Investor juga meningkatkan posisi short terhadap yen ke level tertinggi dalam hampir dua tahun, mencerminkan keyakinan bahwa kenaikan suku bunga atau intervensi belum cukup untuk menopang mata uang tersebut.











