Bisnis

Maknai Peran Pemberdayaan dalam Membangun Kartini Penggerak Ekonomi

Avatar photo
14
×

Maknai Peran Pemberdayaan dalam Membangun Kartini Penggerak Ekonomi

Sebarkan artikel ini
Maknai Peran Pemberdayaan dalam Membangun Kartini Penggerak Ekonomi


PRESSCORNER.ID – Memaknai Hari Kartini tidak cuma berbicara tentang perjuangan perempuan dalam konteks kemerdekaan. Lebih luas dari itu, Hari Kartini, yang selalu dirayakan 21 April, menjadi pengingat bahwa perempuan selalu punya ruang berkarya dan berdaya saing untuk menangkis stigma perempuan yang hanya menjadi ibu rumah tangga atau keluarga.

Pun dalam roda ekonomi, peran perempuan kini semakin strategis dan tidak dapat dikesampingkan. Data Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menyebut 64,5% UMKM atau sebanyak 37 juta unit usaha dari total 57 juta unit usaha di Indonesia dikelola oleh perempuan. Angka tersebut tergolong besar yang menunjukkan peran besar perempuan untuk menambah keuangan keluarga dari berbisnis.

Bagi para pencari kerja, UMKM juga membantu serapan tenaga kerja yang mencapai 117 juta tenaga kerja atau sekitar 97% dari total lapangan kerja nasional. Secara tidak langsung, kehadiran UMKM yang dikelola perempuan turut berkontribusi dalam mengurangi angka pengangguran. Dampak positif pun sangat terasa, terlebih bagi para pencari kerja yang membutuhkan pekerjaan agar mendapat pemasukkan untuk menghidupi keluarga.

Pemerintah terus mendukung UMKM yang dikelola perempuan. Mereka dinilai punya potensi pada sektor padat karya seperti fesyen, kuliner, kecantikan, dan kerajinan. Kepala Badan Kebijakan Perdagangan Kementerian Perdagangan Rusmin Amin mengatakan, potensi nilai bisnis UMKM mencapai USD130 miliar.

“Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa wanita memiliki peran vital bagi perekonomian Indonesia yang berbasis partisipasi masyarakat,” kata Rusmin, seperti dilansir dari PRESSCORNER.ID.

Lebih lanjut, Kemendag mendorong peran UMKM yang dikelola perempuan menuju skala bisnis yang lebih besar. Pemerintah pun melakukan pemetaan sebagai upaya penguatan ekonomi nasional melalui enam pilar di antaranya kebijakan perdagangan, lingkungan bisnis, kerangka hukum dan regulasi, akses keterampilan, akses keuangan, serta pekerjaan dan masyarakat.

Tak hanya itu, Kemendag mengajak UMKM untuk dapat mengekspor produk dan jasanya melalui pendekatan inovasi, kreativitas, promosi, dan adaptif membaca tren pasar. “Ke depan kami berkomitmen memperkuat peran perempuan melalui reformasi kebijakan perdagangan, peningkatan representasi dalam kepemimpinan, perluasan akses finansial, dan pelatihan berbasis digital,” tutur Rusmin.

Senada, Guru Besar Departemen Administrasi Publik FISIP Universitas Airlangga Jusuf Irianto menjelaskan, UMKM yang dikelola perempuan perlu penguatan dari sisi hukum secara legal dan formal. Oleh karenanya, diperlukan perizinan yang mendukung operasional UMKM oleh pemerintah.

Ia juga menyoroti pentingnya pemberian kredit, literasi, dan manajemen keuangan bagi perempuan. Menurutnya, literasi keuangan yang rendah bepengaruh terhadap kapasitas perempuan dalam berbisnis. Pasalnya, informasi seputar literasi keuangan dan finansial adalah hal yang fundamental guna meraih profit jangka panjang.

“Melalui pelibatan perbankan dan lembaga keuangan, pemerintah pun memberi layanan edukasi kepada kaum ibu pengusaha mikro mengelola keuangan lebih baik. Tak sekadar butuh mdal usaha, pengusaha mikro juga harus paham dan terampi mengelola keuangan secara benar,” kata Jusuf, melansir dari Business Insight.

Dukungan PNM untuk Perempuan

Tidak hanya pemerintah, lembaga jasa non-keuangan seperti PT Permodalan Nasional Madani (PNM) punya fokus dalam menyediakan modal bagi pengusaha ultra mikro tanpa jaminan, khususnya modal bagi pemilik usaha yang dipimpin perempuan dari keluarga subsisten. Fokus ini juga sejalan dengan program pemerintah untuk menekan angka keluarga prasejahtera.

Hingga Maret 2026, PNM mencatat 903.557 kelompok nasabah program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) yang seluruhnya adalah perempuan. Mekaar sendiri adalah salah satu program andalan milik PNM yang berfokus pada pemberdayaan untuk pengembangan usaha ultra mikro menuju skala usaha yang lebih sustain (naik kelas).

Sebagai upaya dukungan usaha, PNM turut memberikan pendampingan berupa inklusi dan literasi keuangan dan mendorong tumbuhnya usaha dengan berasaskan kejujuran, kekeluargaan, gotong royong, serta budaya menabung. Pendampingan ini diberikan agar perempuan memiliki jiwa usaha yang kuat serta peningkatan skala bisnis guna memberikan dampak lebih luas bagi masyarakat.

Program yang telah PNM laksanakan langsung dirasakan secara sosial dan ekonomi. Data Fisipol UGM tahun 2022 menunjukkan 71,86% nasabah mulai berkontribusi dalam pengambilan keputusan di keluarga terkait keuangan, pendidikan, dan kebutuhan lainya.

Dengan berbagai capaian, PNM berkomitmen terus mendukung perempuan Indonesia kian berdaya. Selain untuk menguatkan fundamental ekonomi nasional, produk PNM yang digunakan oleh UMKM diharapkan berguna untuk menambah lapangan pekerjaan yang berdampak positif bagi mesin perekonomian. Perempuan patut mendapat ruang berkreasi dan perlu didukung penuh, salah satunya oleh PNM.