Internasional

AS dan Iran Berpeluang Lanjutkan Perundingan Damai di Pakistan

Avatar photo
12
×

AS dan Iran Berpeluang Lanjutkan Perundingan Damai di Pakistan

Sebarkan artikel ini
AS dan Iran Berpeluang Lanjutkan Perundingan Damai di Pakistan


PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Amerika Serikat menyatakan optimistis bahwa perundingan damai dengan Iran akan kembali digelar di Pakistan dalam waktu dekat. Meski demikian, berbagai hambatan masih membayangi proses diplomatik menjelang berakhirnya masa gencatan senjata.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut menginginkan kesepakatan yang dapat mencegah lonjakan harga minyak dan gejolak pasar saham global. Namun, Washington tetap bersikeras bahwa Iran tidak boleh memiliki kemampuan untuk mengembangkan senjata nuklir.

Di sisi lain, Teheran berharap dapat memanfaatkan pengaruhnya atas Selat Hormuz untuk memperoleh kesepakatan yang mampu mencegah perang kembali pecah, meringankan sanksi, tetapi tetap tidak menghambat program nuklirnya.

Seorang pejabat senior Iran mengatakan Teheran sedang “meninjau secara positif” kemungkinan ikut serta dalam perundingan tersebut, meskipun sebelumnya sempat menolak. Namun, hingga kini belum ada keputusan final.

Sumber di Pakistan yang terlibat dalam pembicaraan menyebut terdapat momentum kuat agar perundingan dimulai kembali pada Rabu. Bahkan, Trump disebut bisa hadir secara langsung maupun virtual apabila kesepakatan berhasil dicapai.

Harga Minyak Turun karena Optimisme Diplomatik

Optimisme terhadap potensi dimulainya kembali pembicaraan antara AS dan Iran membuat harga minyak turun dan pasar saham Asia menguat pada perdagangan Selasa.

Kontrak minyak mentah Brent turun 0,6% menjadi US$ 94,94 per barel, sedangkan minyak mentah AS West Texas Intermediate melemah 1,2% menjadi US$ 88,50 per barel.

Namun, ketegangan tetap tinggi. Kementerian Luar Negeri Iran mengecam AS atas dugaan serangan terhadap kapal dagang Iran Touska pada akhir pekan lalu dan menuntut pembebasan kapal beserta awaknya.

Iran menegaskan akan menggunakan seluruh kemampuan yang dimiliki untuk melindungi kepentingan nasional dan keamanan negaranya, serta menyatakan bahwa AS akan bertanggung jawab penuh jika terjadi eskalasi lebih lanjut.

Sumber keamanan maritim menyebut kapal tersebut diduga membawa barang-barang yang dianggap Washington memiliki fungsi ganda untuk keperluan sipil dan militer. Sementara itu, Komando Pusat AS menyatakan awak kapal Touska mengabaikan peringatan berulang selama enam jam dan melanggar blokade AS.

China, yang merupakan pembeli utama minyak mentah Iran, juga menyampaikan kekhawatiran atas tindakan “intersepsi paksa” tersebut.

Iran Tolak Negosiasi di Bawah Ancaman

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyebut pelanggaran gencatan senjata oleh Washington sebagai hambatan utama dalam proses diplomatik.

Sementara itu, negosiator utama Iran Mohammad Baqer Qalibaf menuduh Trump meningkatkan tekanan melalui blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Ia menilai Trump keliru jika menganggap meja perundingan dapat diubah menjadi “meja penyerahan”, dan menegaskan Iran menolak negosiasi di bawah ancaman.

Trump sendiri mengatakan Iran pada akhirnya akan berunding. Namun, ia kembali menegaskan bahwa AS tidak akan membiarkan Teheran mengembangkan senjata nuklir.

“Mereka akan berunding, dan mudah-mudahan mereka akan mencapai kesepakatan yang adil serta membangun kembali negara mereka, tetapi mereka tidak akan memiliki senjata nuklir ketika itu terjadi,” kata Trump.

Pakistan Siapkan Pengamanan Ketat

Pemerintah Pakistan telah melakukan berbagai persiapan untuk menjadi tuan rumah perundingan tersebut. Sekitar 20.000 personel keamanan telah dikerahkan di Islamabad guna memastikan keamanan selama proses diplomatik berlangsung.

Wakil Presiden AS JD Vance juga dilaporkan akan melakukan perjalanan ke Pakistan pada Selasa untuk mendukung perundingan Iran.

Gedung Putih melalui juru bicara Karoline Leavitt menyatakan AS berada sangat dekat dengan tercapainya kesepakatan.

Menurutnya, keberhasilan operasi militer dan gaya negosiasi keras Trump membuat peluang tercapainya kesepakatan semakin besar.

Namun, Gedung Putih juga mengingatkan bahwa Trump masih memiliki berbagai opsi lain jika kesepakatan gagal dicapai.