BeritaSulawesi SelatanSulsel

AS Konfirmasi Jatuhnya Drone Canggih MQ-4C Triton di Selat Hormuz: Kerugian Capai Rp3,2 Triliun

Avatar photo
4
×

AS Konfirmasi Jatuhnya Drone Canggih MQ-4C Triton di Selat Hormuz: Kerugian Capai Rp3,2 Triliun

Sebarkan artikel ini
AS Konfirmasi Jatuhnya Drone Canggih MQ-4C Triton di Selat Hormuz: Kerugian Capai Rp3,2 Triliun


Presscorner.id – Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) secara resmi mengonfirmasi jatuhnya salah satu aset udara tercanggih mereka, pesawat nirawak (drone) MQ-4C Triton, di wilayah Selat Hormuz pada pertengahan April 2026. Insiden ini menandai salah satu kerugian material terbesar dalam operasi pengawasan maritim AS tahun ini.

Kronologi Kejadian

​Insiden bermula pada 9 April 2026, ketika drone dengan nomor seri 169804 sedang melakukan misi rutin intelijen, pengawasan, dan pengintaian (ISR) di atas Teluk Persia. Data pelacakan penerbangan menunjukkan bahwa saat berada di ketinggian operasional 52.000 kaki, drone tersebut tiba-tiba memancarkan kode darurat 7700 dan 7400 (hilang kontak).

​Hanya dalam hitungan menit, drone raksasa tersebut terjun bebas hingga di bawah 10.000 kaki sebelum akhirnya hilang dari radar. Berdasarkan laporan terbaru dari Naval Safety Command pada 14 April 2026, insiden ini telah diklasifikasikan sebagai “Class A Mishap”, yang berarti kecelakaan berat dengan nilai kerugian di atas $2,5 juta USD.

Spesifikasi dan Nilai Fantastis

​MQ-4C Triton bukan sekadar drone biasa. Pesawat ini adalah versi maritim dari Global Hawk yang dirancang khusus untuk beroperasi di lingkungan laut yang keras. Dengan bentang sayap mencapai 39,9 meter, Triton mampu terbang terus-menerus selama lebih dari 24 jam tanpa pengisian bahan bakar.

​Nilai satu unit drone ini diperkirakan mencapai $180 juta hingga $220 juta USD, atau setara dengan Rp3,2 Triliun. Harga yang sangat tinggi ini disebabkan oleh sistem radar Multi-Function Active Sensor (MFAS) yang mampu memantau area jutaan kilometer persegi dalam satu hari.

Penyebab Masih Menjadi Misteri

​Hingga saat ini, pihak militer Amerika Serikat belum memberikan rincian pasti mengenai penyebab jatuhnya drone tersebut. Meskipun sempat beredar spekulasi mengenai keterlibatan pihak luar di wilayah sensitif tersebut, indikasi awal lebih mengarah pada kegagalan teknis katastropik atau gangguan pada sistem komunikasi satelit (lost link).

​Demi alasan keamanan operasional (OPSEC), lokasi koordinat jatuhnya drone masih dirahasiakan rapat. Langkah ini diambil guna memastikan puing-puing teknologi sensor tingkat tinggi milik Triton tidak jatuh ke tangan pihak lawan atau negara lain di kawasan tersebut.

Dampak Strategis di Kawasan

​Kehilangan MQ-4C Triton merupakan pukulan telak bagi intelijen maritim AS di Timur Tengah. Insiden ini terjadi di tengah situasi geopolitik yang fluktuatif di Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak paling vital di dunia.

​Kini, fokus utama militer AS adalah melakukan investigasi menyeluruh untuk memastikan apakah jatuhnya aset mahal ini disebabkan oleh cacat produksi, gangguan elektronik, atau faktor lingkungan ekstrem di ketinggian tinggi.

Disclaimer: Artikel ini disusun sebagai informasi publik mengenai perkembangan teknologi militer dan insiden keamanan internasional tahun 2026.