PRESSCORNER.ID-JAKARTA. Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) sekaligus Menteri Keuangan Suahasil Nazara memastikan kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mampu menjaga stabilitas perekonomian domestik di tengah perlambatan ekonomi global.
Suahasil menyampaikan, Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan World Economic Outlook (WEO) Oktober 2026 memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,1% pada 2026. Angka tersebut melambat dibandingkan tahun sebelumnya. Di sisi lain, inflasi global diperkirakan meningkat menjadi 4,7%.
Meski menghadapi tekanan eksternal, perekonomian Indonesia pada kuartal III-2026 diprakirakan tetap tumbuh kuat. Pertumbuhan ekonomi masih ditopang oleh permintaan domestik dan kinerja ekspor yang positif.
“APBN akan terus berfungsi sebagai shock absorber melalui subsidi, kompensasi, perlindungan sosial, stabilisasi harga pangan dan berbagai program penciptaan lapangan kerja,” ujar Suahasil dalam konferensi pers KSSK, Selasa (3/11/2026).
Ia menjelaskan, konsumsi rumah tangga masih didukung oleh berbagai stimulus fiskal pemerintah. Sementara itu, investasi diperkirakan tumbuh kuat seiring berlanjutnya proyek hilirisasi dan pembangunan infrastruktur dalam program prioritas pemerintah.
“Konsumsi pemerintah didukung oleh percepatan belanja dan penyaluran bantuan sosial. Di sisi eksternal, kinerja ekspor nonmigas meningkat dan semakin didorong untuk memanfaatkan momentum kenaikan harga dan permintaan komoditas ekspor,” katanya.
Sejumlah indikator ekonomi turut menunjukkan perkembangan positif. Penjualan mobil dan sepeda motor pada September 2026 masing-masing tumbuh 28,1% dan 15,4% secara tahunan. Selain itu, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia melanjutkan ekspansi dari level 52 pada September menjadi 54 pada Oktober 2026.
“Dengan perkembangan tersebut, ekonomi Indonesia di tahun 2026 diprakirakan tumbuh di sekitar 5,4%-5,5% secara tahunan,” ungkap Suahasil.
Suahasil menambahkan, sinergi kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia (BI), serta kolaborasi pemerintah dengan Danantara melalui pendekatan two arms of the state akan terus diperkuat untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi bernilai tambah tinggi.
Dari sisi fiskal, kinerja APBN hingga kuartal III-2026 juga menunjukkan perkembangan positif. Realisasi pendapatan negara dan hibah mencapai Rp 2.341,5 triliun atau tumbuh 25,5% secara tahunan.
Penerimaan perpajakan tercatat sebesar Rp 1.847,7 triliun atau tumbuh 21,8% secara tahunan. Kinerja tersebut dipengaruhi oleh aktivitas ekonomi serta penerapan sistem Coretax yang semakin baik.
Sementara itu, penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp 240,1 triliun atau tumbuh 8,5% secara tahunan. Adapun penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mencapai Rp 492,3 triliun atau tumbuh 41,7% secara tahunan.
Dari sisi belanja, realisasi belanja negara mencapai Rp 2.660,5 triliun atau tumbuh 19% secara tahunan. Belanja pemerintah pusat tercatat sebesar Rp 2.061,3 triliun atau tumbuh 29,6%, sedangkan transfer ke daerah mencapai Rp 599,2 triliun atau terkontraksi 7,1%.
Realisasi belanja negara antara lain digunakan untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG), bantuan sosial reguler, PBI-JKN, Kartu Sembako, Program Keluarga Harapan (PKH), Program Indonesia Pintar (PIP), hingga Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah.
Selain itu, belanja negara juga diarahkan untuk pembangunan infrastruktur, jalan dan jembatan, layanan pendidikan, pembayaran manfaat pensiun, serta subsidi dan kompensasi bahan bakar minyak (BBM) dan listrik.
“Ke depan, APBN akan terus dioptimalkan untuk melindungi, menumbuhkan dan menjaga stabilitas,” tegasnya.
Untuk menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas harga serta pasokan BBM dan pangan, realisasi subsidi dan kompensasi masing-masing mencapai Rp 222,5 triliun dan Rp 154,5 triliun.
Sementara itu, perlindungan terhadap masyarakat miskin dan rentan dilakukan melalui berbagai program bantuan sosial. Realisasi PKH mencapai Rp 21,8 triliun, Kartu Sembako Rp 28,2 triliun, dan PIP sebesar Rp 11,1 triliun.
Di sisi lain, pemerintah juga mengakselerasi program prioritas, termasuk MBG. Hingga akhir September 2026, realisasi program tersebut mencapai Rp 153,2 triliun dengan jumlah penerima manfaat sebanyak 57 juta orang.
Pemerintah juga memberikan berbagai paket stimulus untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan aktivitas usaha.
Suahasil merinci, stimulus tersebut antara lain berupa insentif perpajakan untuk penulis nasional, insentif PPN ditanggung pemerintah (DTP) sektor perumahan, bantuan pangan, diskon transportasi pada periode libur, Lebaran dan sekolah, serta program magang dan vokasi.











