PRESSCORNER.ID – JAKARTA. PT Tugu Reasuransi Indonesia (Tugure) mencatatkan kinerja hingga kuartal III-2026 tetap resilen, di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi.
Tugure telah membukukan premi bruto reasuransi sebesar Rp2,46 triliun, sementara pendapatan premi neto tumbuh 7% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp1,24 triliun seiring naiknya retensi.
Lebih lanjut, Tugure juga masih mencetak laba positif dengan rasio solvabilitas sebesar 175%, jauh di atas ketentuan batas minimum Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Corporate Secretary Group Head Yuliani Winarsih mengatakan, pencapaian premi bruto Tugure berada di kisaran 85% dari target periode berjalan.
Dari sisi investasi, ia menyebut kondisi yang belum optimal turut mempengaruhi pencapaian laba bersih tahun 2026.
Meski begitu, efektifitas pengelolaan biaya tetap menjadi perhatian, ketika beban klaim neto dan beban usaha masih berada dalam batas anggaran.
“Kami terus memantau pencapaian secara berkala dan memperkuat strategi untuk mengejar target hingga akhir tahun,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (3/11).
Yuliani menambahkan, ketidakpastian ekonomi dan volatilitas pasar keuangan menjadi tantangan bagi pertumbuhan bisnis maupun hasil investasi.
Menurutnya dari sisi bisnis, tren softening market serta meningkatnya persaingan dengan reasuradur luar negeri menjadi tantangan tersendiri bagi perseroan sebagai reasuradur lokal.
Untuk menyikapinya, Tugure mengutamakan kualitas underwriting di atas volume, lebih selektif dalam menerima risiko, memperkuat pemantauan portofolio, serta menjaga beban usaha dalam batas anggaran.
Selain itu melihat dari sisi investasi, Tugure mengelola portofolio secara prudent dengan melakukan penyeimbangan (rebalancing) ke instrumen yang likuid dan memberikan imbal hasil yang stabil.
Oleh karena itu, ia menjelaskan Tugure berkomitmen untuk meningkatkan layanan kepada mitra usaha melalui kecepatan respons akseptasi dan klaim, dukungan analitik, serta program pengembangan berbasis edukasi.











