BeritaBisnis

Insentif PPN Nataru Jadi Katalis Garuda Indonesia (GIAA), Ini Saran Analis

Avatar photo
1
×

Insentif PPN Nataru Jadi Katalis Garuda Indonesia (GIAA), Ini Saran Analis

Sebarkan artikel ini
Insentif PPN Nataru Jadi Katalis Garuda Indonesia (GIAA), Ini Saran Analis


PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Insentif pajak pertambahan nilai (PPN) untuk tiket pesawat ekonomi domestik selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) berpotensi mendukung kinerja PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA). Namun, kebijakan tersebut dinilai belum cukup untuk menjamin pemulihan kinerja fundamental maupun harga saham maskapai pelat merah itu.

Per Jumat (23/10/2026), saham GIAA turun 55,21% secara year to date (YtD) menjadi Rp 43 per saham. Di tengah tekanan tersebut, industri penerbangan juga menghadapi gangguan operasional akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berdampak pada penerbangan domestik.

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menilai insentif PPN dapat meningkatkan minat masyarakat untuk bepergian karena harga tiket menjadi lebih terjangkau. Bagi GIAA, kebijakan tersebut berpotensi mendorong jumlah penumpang dan tingkat keterisian pesawat atau load factor.

“Namun, dampaknya terhadap profitabilitas tetap bergantung pada besarnya kenaikan permintaan dan kemampuan perusahaan mengendalikan biaya operasional,” ujar Alrich kepada Kontan, Jumat (23/10/2026).

Di sisi lain, gangguan penerbangan akibat karhutla berpotensi menekan pendapatan GIAA melalui keterlambatan, pengalihan rute, hingga pembatalan penerbangan. Maskapai juga berpotensi menanggung biaya tambahan untuk penyesuaian jadwal dan penanganan penumpang, sementara sejumlah biaya operasional tetap berjalan.

Alrich menilai insentif PPN dapat menjadi katalis positif bagi sentimen saham GIAA menjelang Nataru. Namun, investor tetap perlu mencermati perbaikan pendapatan, arus kas, beban keuangan, dan profitabilitas perusahaan. Secara teknikal, peluang rebound saham GIAA masih terbuka, tetapi risiko volatilitas dan tekanan jual tetap tinggi sebelum muncul konfirmasi pembalikan arah.

Alrich pun menyarankan investor untuk berhati-hati terhadap saham GIAA yang memiliki risiko tinggi. “Untuk GIAA, cenderung high risk karena belum likuid sehingga rawan stuck jika entry dengan porsi agresif. Pertimbangkan untuk wait and see terlebih dulu,” jelasnya.

Senada, Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menilai insentif PPN 100% untuk tiket pesawat ekonomi domestik selama Nataru berpotensi meningkatkan permintaan perjalanan dan tingkat keterisian pesawat. Hal ini dapat mendukung pendapatan Garuda Indonesia maupun Citilink.

Meski demikian, Sukarno menilai dampak insentif tersebut terhadap laba masih bergantung pada pertumbuhan volume penumpang, kapasitas armada, serta pengendalian biaya operasional.

Gangguan penerbangan akibat karhutla juga berpotensi memperlambat pemulihan profitabilitas GIAA. Pasalnya, pembatalan dan penundaan penerbangan dapat menekan pendapatan sekaligus meningkatkan biaya penjadwalan ulang dan penanganan penumpang, di tengah tingginya biaya avtur dan beban tetap.

“Untuk saat ini, kami menyarankan wait and see bagi investor yang belum memiliki saham GIAA, mengingat risiko fundamental dan volatilitas yang masih tinggi,” ujar Sukarno.

Menurut Sukarno, pemulihan kinerja GIAA secara berkelanjutan masih membutuhkan perbaikan margin, efisiensi biaya, optimalisasi armada, serta penguatan struktur keuangan. Dengan demikian, insentif PPN lebih berpotensi menjadi katalis jangka pendek ketimbang jaminan pemulihan fundamental perusahaan.