BeritaBisnis

Menavigasi Peluang Investasi Energi Hijau Indonesia

Avatar photo
4
×

Menavigasi Peluang Investasi Energi Hijau Indonesia

Sebarkan artikel ini
Menavigasi Peluang Investasi Energi Hijau Indonesia


PRESSCORNER.ID – Kebutuhan energi dunia terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi, digitalisasi dan munculnya industri baru yang semakin intensif menggunakan listrik. China menjadi salah satu gambaran paling jelas. Sepanjang 2025, konsumsi listrik negara tersebut menembus 10.368,2 TWh, naik 5% dibandingkan tahun sebelumnya. Konsumsi listrik sektor teknologi informasi bahkan tumbuh 17%.

Indonesia bergerak dalam arah yang sama. Handbook of Energy & Economic Statistics of Indonesia 2025 mencatat konsumsi energi final nasional naik 3,8% menjadi 1.387,1 juta barrel of oil equivalent (BOE) pada 2025, level tertinggi dalam satu dekade.

Sementara itu, pasokan listrik Indonesia masih bertumpu pada energi fosil, terutama batubara. Jika tambahan kebutuhan listrik terus dipenuhi dengan sumber yang sama, ketergantungan pada energi fosil akan terus berlanjut dan upaya menekan emisi menjadi semakin menantang.

Kondisi tersebut memperkuat urgensi pengembangan energi hijau. Penambahan pasokan perlu berjalan seiring dengan diversifikasi sumber energi dan pengurangan emisi, agar kebutuhan ekonomi dapat dipenuhi secara berkelanjutan. Keputusan investasi pembangkit hari ini, akan menentukan sumber listrik yang digunakan selama puluhan tahun mendatang. Karena itu, pertumbuhan kebutuhan pasokan listrik sekaligus membuka peluang untuk memperbesar peran energi terbarukan dalam bauran energi Indonesia.

Di saat yang sama, Indonesia memiliki modal besar. Kementerian ESDM mencatat potensi energi terbarukan mencapai sekitar 3.687 GW, termasuk 3.294 GW tenaga surya, 155 GW tenaga angin dan 24 GW panas bumi. Namun, besarnya potensi tidak berarti seluruhnya dapat dikembangkan sekaligus.

Director of Investment sekaligus Lead Sector Green Energy, Indonesia Investment Authority (INA), Joko Sogie, menilai transisi perlu dilakukan bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan teknologi, infrastruktur dan keekonomian proyek.

Joko mengatakan, “Indonesia is blessed with resources” karena memiliki banyak pilihan sumber energi. Banyaknya opsi itu ia sebut sebagai tantangan yang positif. “Ini seperti good headache, kita punya banyak pilihan, tinggal menentukan opsi mana yang ingin digunakan saat ini dan untuk lima hingga sepuluh tahun ke depan,” ujar Joko dalam perbincangan bersama Kontan.

Energi hijau sebagai sektor prioritas INA

Kontan – INA Kilas Online

© Foto oleh INA

Energi hijau dan transisi energi menjadi salah satu sektor prioritas INA sejak awal. Menurut Joko, sektor ini sejalan dengan kebutuhan Indonesia sekaligus arah investasi global, seiring semakin besarnya modal yang dialokasikan ke sektor energi bersih.

Sejalan dengan evolusi pendekatan investasi INA secara keseluruhan, cara INA melihat peluang juga berkembang. Pada tahun-tahun awal, investasi lebih banyak dinilai berdasarkan proyek yang sifatnya berdiri sendiri. Kini, INA semakin melihat peluang berbasis platform, yang memiliki sejumlah proyek atau rencana pengembangan sekaligus, sehingga investasi dapat dikembangkan dalam skala lebih besar melalui kemitraan jangka panjang.

Dalam Laporan Tahunan INA 2025, sektor energi hijau dan transisi energi menyumbang 9,8% dari total nilai investasi kumulatif INA bersama mitra investasinya hingga akhir 2025.

Daya tarik investasi energi hijau

Kontan – INA Kilas Online

© Foto oleh INA

Menurut Joko, investor global akan melihat sejumlah faktor sebelum menempatkan modal, mulai dari prospek imbal hasil dan pertumbuhan hingga kepastian usaha.

Dalam proyek ketenagalistrikan, salah satu bentuk kepastian yang penting bagi investor adalah struktur kontrak jangka panjang seperti Power Purchase Agreement (PPA) dengan PLN. Struktur kontrak yang kuat dapat meningkatkan kelayakan proyek untuk memperoleh pembiayaan, sehingga turut memperkuat daya tariknya di mata investor.

Di luar struktur proyek, daya tarik sektor energi hijau Indonesia juga ditopang oleh keragaman sumber daya. Indonesia memiliki pilihan energi terbarukan yang dapat saling melengkapi, mulai dari tenaga surya, panas bumi, angin hingga tenaga air.

Tenaga surya menjadi salah satu yang paling cepat dikembangkan dan mudah diperbesar skalanya. Tantangannya adalah kebutuhan lahan serta produksi listrik yang bergantung pada ketersediaan sinar matahari. Namun, perkembangan teknologi penyimpanan energi melalui battery energy storage system (BESS) memungkinkan listrik yang dihasilkan pada siang hari dapat disimpan dan digunakan ketika dibutuhkan.

Panas bumi atau geothermal menawarkan karakter yang berbeda. Sebagai sumber energi terbarukan yang dapat beroperasi 24 jam, panas bumi mampu memasok listrik secara stabil dalam jangka panjang, meski membutuhkan investasi awal yang lebih besar. Indonesia Timur juga memiliki potensi angin yang besar, sementara sumber daya air melengkapi pilihan energi terbarukan yang dimiliki Indonesia.

Banyaknya pilihan tersebut menjadi keuntungan sekaligus tantangan. Di tengah besarnya potensi energi terbarukan, Indonesia juga memiliki sumber energi konvensional yang melimpah. Karena itu, transisi perlu dilakukan dengan menentukan kombinasi sumber energi yang tepat untuk memenuhi kebutuhan saat ini sekaligus mempercepat penggunaan energi yang lebih bersih.

Peluang energi juga semakin melampaui batas negara. Perdagangan listrik lintas batas mulai membuka ruang baru di Asia Tenggara. Singapura, misalnya, memiliki kebutuhan energi besar dengan keterbatasan pasokan domestik, sementara sejumlah negara tetangga memiliki potensi sumber energi yang dapat dikembangkan.

Kondisi tersebut membuat interkonektivitas kawasan seperti ASEAN Power Grid semakin relevan. Bagi INA, perkembangan ini membuka peluang investasi yang terkait dengan Indonesia dalam ekosistem energi regional, termasuk melalui pengembangan platform investasi dan kemitraan jangka panjang.

Tata kelola di balik investasi

Kontan – INA Kilas Online

© Foto oleh INA

Seiring peluang investasi yang semakin luas dan kompleks, disiplin dalam menilai setiap peluang menjadi semakin penting. Bagi INA, potensi pertumbuhan dan imbal hasil perlu berjalan seiring dengan pengelolaan risiko yang kuat sejak awal hingga sepanjang masa investasi.

Setiap peluang investasi di INA melalui tahapan asesmen sebelum masuk ke proses uji tuntas yang mencakup aspek finansial, legal, pajak, teknis, komersial, risiko dan ESG.

Temuan risiko dalam proses uji tuntas tidak serta-merta membuat sebuah proyek dinilai tidak layak. INA menilai apakah risiko tersebut dapat dimitigasi, kemudian menerjemahkannya ke dalam struktur transaksi, pemilihan mitra dan perlindungan kontraktual.

Pendekatan tersebut berlanjut setelah transaksi selesai. INA memantau portofolio secara berkala untuk melihat apakah tesis investasi dan proyeksi awal tetap berjalan. Jika muncul persoalan, INA dan mitra mencari penyelesaian bersama.

Disiplin investasi dan tata kelola tersebut menjadi bagian dari pendekatan INA dalam membangun dan menjaga kemitraan jangka panjang dengan investor. Bersama 40 mitra dari 15 negara, hingga 2025 INA telah menyalurkan investasi sekitar Rp74,5 triliun atau sekitar US$4,7 miliar.

Pertumbuhan kebutuhan listrik membuat pengembangan energi hijau Indonesia semakin mendesak. Kekayaan sumber daya memberi Indonesia banyak pilihan, tetapi pemanfaatannya membutuhkan proyek yang layak dibiayai, infrastruktur yang siap serta mitra yang mampu mengembangkannya dalam jangka panjang. Keputusan investasi yang diambil hari ini akan menentukan seberapa besar kebutuhan listrik di masa depan dapat dipenuhi oleh energi yang lebih bersih.

Ke depan, peluang energi hijau Indonesia akan ditentukan bukan hanya oleh besarnya sumber daya, tetapi juga kemampuan mengubah potensi tersebut menjadi proyek yang layak memperoleh pembiayaan, dapat dikembangkan dalam skala lebih besar dan memiliki prospek komersial jangka panjang.

Bagi INA, pendekatannya tetap sama: menilai setiap peluang secara disiplin, mempertemukan peluang tersebut dengan modal global jangka panjang, dan menjadikan peluang tersebut menjadi hasil nyata.

“Kita berada di momentum yang tepat untuk mempercepat pengembangan energi hijau,” pungkas Joko.