Pendidikan

Akademisi UMI dan Unismuh Bahas Pelestarian Sastra Bugis-Makassar

Avatar photo
6
×

Akademisi UMI dan Unismuh Bahas Pelestarian Sastra Bugis-Makassar

Sebarkan artikel ini
Akademisi UMI dan Unismuh Bahas Pelestarian Sastra Bugis-Makassar


Presscorner.id – Pelestarian sastra Bugis-Makassar dan kearifan lokal menjadi perhatian akademisi di Sulawesi Selatan. Upaya menjaga warisan budaya ini dinilai penting agar nilai-nilai luhur masyarakat tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi muda di tengah perkembangan zaman.

Pembahasan tersebut mengemuka dalam program dialog budaya Pappaseng ri Elompugi di TVRI Sulawesi Selatan, Kamis (15/10/2026). Program ini menghadirkan Ketua Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Sulawesi Selatan, Prof. Dr. H. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum., yang akrab disapa Prof. Andis, bersama Dekan Fakultas Sastra Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Dr. Nurjannah Abna.

Prof. Andis juga dikenal sebagai akademisi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar. Dalam dialog tersebut, ia menyoroti pentingnya sastra daerah dan literasi berbasis kearifan lokal untuk menjaga keberlanjutan nilai budaya Bugis-Makassar.

Sastra Bugis-Makassar sebagai Warisan Budaya

Sastra Bugis-Makassar merupakan bagian penting dari kekayaan budaya Sulawesi Selatan. Di dalamnya terdapat nilai moral, pandangan hidup, serta pengetahuan masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Warisan tersebut tidak hanya hadir dalam karya sastra tertulis, tetapi juga melalui tradisi lisan yang berkembang di tengah masyarakat. Karena itu, pelestarian sastra daerah perlu berjalan beriringan dengan upaya mendokumentasikan dan memperkenalkannya kepada generasi muda.

Dialog Pappaseng ri Elompugi menjadi ruang untuk membahas peran sastra dan kearifan lokal dalam menjaga identitas budaya masyarakat Bugis-Makassar.

Di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi, penguatan literasi budaya menjadi semakin relevan. Generasi muda perlu memperoleh akses terhadap pengetahuan mengenai bahasa, sastra, tradisi, dan nilai-nilai yang membentuk identitas daerahnya.

Pengenalan sastra daerah melalui pendidikan, kegiatan kebudayaan, dan media massa dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga keberlanjutan warisan tersebut.

Akademisi Berperan dalam Pelestarian Budaya

Selain sastra lisan, naskah-naskah kuno menyimpan pengetahuan mengenai sejarah, nilai sosial, dan kehidupan masyarakat pada masa lampau.

Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam pelestarian warisan budaya melalui penelitian, dokumentasi, pendidikan, serta pengembangan kajian sastra dan kebudayaan.

Keterlibatan Prof. Andis dan Dr. Nurjannah Abna dalam dialog budaya tersebut turut membuka ruang pembahasan mengenai pentingnya menjaga sastra daerah agar tetap dikenal masyarakat luas.

Upaya pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Akademisi, budayawan, lembaga pendidikan, pemerintah, dan masyarakat dapat berkontribusi sesuai peran masing-masing dalam merawat kekayaan budaya Sulawesi Selatan.

TVRI Sulsel Perluas Ruang Literasi Budaya

Program Pappaseng ri Elompugi menjadi salah satu sarana untuk memperkenalkan sastra dan kearifan lokal kepada masyarakat melalui media penyiaran.

Melalui dialog kebudayaan, pembahasan yang berkembang di lingkungan akademik dapat menjangkau khalayak yang lebih luas. Media massa juga memiliki peluang untuk memperkuat literasi budaya dengan mengangkat tradisi, bahasa daerah, karya sastra, dan nilai-nilai lokal yang masih relevan dalam kehidupan masyarakat.

Kolaborasi akademisi dan media dapat membantu memperluas pemahaman masyarakat mengenai pentingnya menjaga identitas budaya Bugis-Makassar.

Menjaga Kearifan Lokal bagi Generasi Muda

Pelestarian sastra Bugis-Makassar bukan sekadar menjaga peninggalan masa lalu. Upaya tersebut juga berkaitan dengan keberlanjutan nilai budaya yang dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi berikutnya.

Pengenalan tradisi lisan, karya sastra, dan naskah kuno perlu dilakukan secara berkelanjutan agar generasi muda dapat mengenal serta memahami warisan budaya daerahnya.

Melalui kolaborasi akademisi, lembaga pendidikan, budayawan, dan media massa, kearifan lokal Sulawesi Selatan diharapkan tetap mendapat ruang di tengah perkembangan zaman.

Dialog budaya di TVRI Sulawesi Selatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pembahasan mengenai sastra daerah dan pentingnya merawat identitas budaya Bugis-Makassar.