BeritaInternasional

Ukraina Prioritaskan Ekspor Produk Bernilai Tinggi, Stok Gandum Terancam

Avatar photo
6
×

Ukraina Prioritaskan Ekspor Produk Bernilai Tinggi, Stok Gandum Terancam

Sebarkan artikel ini
Ukraina Prioritaskan Ekspor Produk Bernilai Tinggi, Stok Gandum Terancam


PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Perang dengan Rusia terus menekan kemampuan Ukraina mengekspor hasil pertaniannya.

Dengan pelabuhan laut yang praktis tidak dapat digunakan, pemerintah Ukraina kini mempertimbangkan untuk memprioritaskan kapasitas transportasi bagi komoditas pertanian yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Menteri Pertanian Ukraina Taras Vysotskyi mengatakan, kementeriannya telah menyetujui usulan kelompok usaha tani untuk memberikan akses transportasi prioritas bagi produk bernilai tambah tinggi ketika kapasitas jalur ekspor terbatas.

Namun, kebijakan tersebut belum dapat langsung diterapkan. Pemerintah masih perlu menyusun mekanisme pelaksanaannya dan belum menetapkan kapan kebijakan itu mulai berlaku.

“Lebih ekonomis mengekspor produk dengan nilai tambah lebih tinggi,” kata Oleh Khomenko, Kepala Ukrainian Agribusiness Club (UCAB).

Saat ini, Ukraina hanya mampu menyalurkan sedikit lebih dari separuh potensi volume ekspornya melalui pelabuhan Danube yang berkapasitas lebih rendah serta jalur kereta api menuju sejumlah negara Eropa Timur.

Kondisi tersebut terjadi setelah akses melalui pelabuhan laut Ukraina terganggu akibat perang dengan Rusia.

Kementerian Pertanian Ukraina mencatat, gangguan tersebut telah meningkatkan biaya logistik sekitar US$50 per ton.

Kenaikan biaya logistik membuat ekspor komoditas dengan harga jual rendah menjadi semakin kurang menarik secara ekonomi.

Menurut Khomenko, harga ekspor daging unggas mencapai sekitar €3.000 per ton, minyak nabati sekitar US$1.200 per ton, dan bungkil hasil pengolahan biji minyak sekitar US$900 per ton.

Sebaliknya, harga ekspor gandum hanya berada di kisaran US$150-US$170 per ton.

Dengan kondisi tersebut, pelaku usaha tani Ukraina mengusulkan agar kapasitas transportasi yang terbatas lebih dulu digunakan untuk komoditas bernilai tinggi.

Langkah serupa juga pernah dilakukan pada tahun-tahun awal perang pada 2022-2023, ketika petani memprioritaskan ekspor komoditas biji minyak dan menahan sebagian gandum di dalam negeri.

Persoalan ini berpotensi kembali menekan pasar gandum Ukraina. Konsultan pertanian APK-Inform memperkirakan, apabila pelabuhan laut Ukraina tidak kembali beroperasi, hambatan ekspor dapat membuat stok gandum yang tersisa pada akhir musim 2026/2027 mencapai rekor 24,7 juta ton.

Jumlah tersebut setara dengan sekitar sepertiga dari total panen gandum Ukraina pada 2026. Artinya, semakin lama jalur ekspor berkapasitas besar tidak tersedia, semakin besar pula risiko penumpukan hasil panen di dalam negeri.