BeritaInternasional

Harga Minyak Dunia Turun 1% Jumat (18/9), Brent & WTI Masih di Atas US$ 100 per Barel

Avatar photo
11
×

Harga Minyak Dunia Turun 1% Jumat (18/9), Brent & WTI Masih di Atas US$ 100 per Barel

Sebarkan artikel ini
Harga Minyak Dunia Turun 1% Jumat (18/9), Brent & WTI Masih di Atas US$ 100 per Barel


PRESSCORNER.ID – Harga minyak dunia turun sekitar 1% pada perdagangan Jumat (18/9/2026), memperpanjang pelemahan untuk sesi ketiga berturut-turut.

Meski demikian, harga minyak masih bertahan di atas US$ 100 per barel karena pasar masih mencermati risiko gangguan pasokan akibat perang di Timur Tengah.

Melansir Reuters, harga minyak Brent untuk kontrak pengiriman November 2026 turun US$ 1,01 atau 1% menjadi US$ 103,77 per barel pada pukul 00.20 GMT. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS melemah US$ 1,03 atau 1% menjadi US$ 100,88 per barel.

Kedua harga acuan tersebut sebelumnya juga ditutup turun sekitar 1% pada Kamis (17/9).

Penurunan harga minyak terjadi ketika pasar mulai memperkirakan terdapat sejumlah jalur alternatif yang dapat digunakan untuk menjaga aliran minyak dari Timur Tengah ke pasar global.

Ekspektasi tersebut mengimbangi kekhawatiran terhadap serangkaian serangan baru antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman.

Harga minyak sebelumnya sempat melonjak ke level tertinggi sekitar empat bulan setelah muncul laporan penghentian sementara pemuatan minyak mentah di pusat ekspor Arab Saudi di Yanbu.

Riyadh juga membatalkan sejumlah pengiriman minyak ke Eropa setelah jaringan pipa East-West Pipeline rusak akibat serangan pada pekan lalu.

Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk memperbaiki jaringan pipa tersebut masih menjadi perhatian pasar.

Sejumlah sumber yang berbicara kepada Reuters memberikan perkiraan berbeda mengenai kapan pipa dapat kembali beroperasi normal.

Berdasarkan citra satelit dan keterangan tiga sumber industri, sedikitnya tiga stasiun pompa di jaringan pipa tersebut mengalami kerusakan. Jumlah itu satu stasiun lebih banyak dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Penutupan berkepanjangan East-West Pipeline menuju Yanbu berpotensi memangkas hingga sekitar 4% pasokan minyak global, menurut sejumlah pelaku perdagangan.

Namun, Arab Saudi mulai mencari alternatif untuk mengurangi dampak gangguan tersebut. Bloomberg melaporkan Riyadh berupaya mengembalikan sekitar separuh kapasitas East-West Pipeline dalam beberapa hari.

Arab Saudi juga menawarkan lebih banyak kargo minyak mentah kepada pembeli di Asia melalui skema transfer antarkapal atau ship-to-ship di lepas pantai Sohar, Oman.

Langkah tersebut berpotensi membantu menjaga pasokan ke kilang Asia sekaligus mengurangi dampak gangguan pada jaringan pipa utama Arab Saudi.

Menteri Energi AS Chris Wright juga mengatakan aliran minyak melalui pipa tersebut diperkirakan dapat kembali berjalan dalam beberapa hari.

Risiko Selat Hormuz Masih Tinggi

Di tengah upaya mencari jalur alternatif, risiko gangguan pasokan minyak masih tinggi karena ketegangan di Selat Hormuz.

Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran mengatakan, sebuah kapal tanker berbendera Togo terkena serangan ketika mencoba melakukan apa yang disebut Iran sebagai “pelayaran ilegal” melalui Selat Hormuz pada Kamis.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi global. Sebelum perang, sekitar seperlima minyak mentah dan gas alam cair dunia melewati selat tersebut.

Perkembangan tersebut membuat prospek pasar minyak semakin sulit dipetakan. JPMorgan pada Kamis mengatakan tidak memiliki gambaran dasar yang jelas mengenai pasar minyak untuk pertama kalinya sejak perang antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran dimulai.

Ketidakpastian tersebut terjadi ketika belum ada perundingan damai baru antara AS dan Iran. Kesepakatan sementara yang dicapai pada Juni lalu runtuh hanya dalam beberapa pekan.

Perang tersebut dijadwalkan menjadi salah satu isu yang dibahas dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pekan depan. Delegasi Iran disebut akan menghadiri agenda tersebut.

Dengan harga Brent dan WTI masih berada di atas US$ 100 per barel, pasar minyak kini menghadapi tarik-menarik antara kekhawatiran gangguan pasokan dan kemampuan produsen mencari jalur distribusi alternatif.

Jika pemulihan jaringan pipa Arab Saudi berlangsung sesuai harapan, tekanan terhadap pasokan dapat berkurang.

Namun, eskalasi konflik di sekitar Selat Hormuz maupun jalur pelayaran lainnya masih menjadi risiko yang dapat kembali mendorong harga minyak.